"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

20 Maret 2011

BIOLOGI BUNGA


-->
INTISARI

Praktikum Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman yang berjudul Biologi Bunga ini dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2011 di Laboratorium Pemuliaan tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Praktikum mengenai biologi bunga ini bertujuan untuk mempelajari stuktur bunga, mempelajari saat membuka dan menutupnya bunga, mempelajari waktu tepungsari dapat berfungsi (viabel) dan stigma siap menerima tepungsari (reseptif), dan mempelajari tipe persilangan tanaman. Metode yang digunakan adalah dengan cara mengamati morfologi bunga dari masing-masing jenis yang digunakan sebagai preparat praktikum, kemudian digambar lengkap dengan bagian-bagiannya. Alat-alat yang digunakan adalah lup, pinset, dan alat tulis. Hasil dari percobaan ini adalah deskripsi dari masing-masing preparat, yakni bunga jagung (Zea mays), bunga padi (Oryza sativa), bunga kelapa (Cocos nucifera), bunga pepaya (Carica papaya), bunga kakao (Theobroma cacao), bunga cabai (Capsium frutescens), bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis), dan bunga kacang panjang (Vigna sinensis), dan bunga Tomat (Solanum lycopersicum L.). Dari hasil pengamatan diperoleh morfologi dan struktur bunga yang berbeda-beda. Bunga dengan tipe penyerbukan sendiri antara lain bunga padi, jagung, kelapa, tomat, dan cabai. Sedangkan bunga dengan tipe penyerbukan silang antara lain kakao dan pepaya.


I. PENDAHULUAN
A. Tujuan
1. Mempelajari struktur bunga.
2. Mempelajari saat membuka dan menutupnya bunga.
3. Mempelajari waktu tepungsari dapat berfungsi (viabel) dan stigma siap menerima tepungsari (reseptif).
4. Mempelajari tipe persilangan tanaman.
B. Latar Belakang
Pola variasi genetik di alam sangat ditentukan oleh mekanisme penyerbukan pada tanaman, dan tanpa penyerbukan dan pembuahan tidak akan ada regenerasi dari suatu makhluk hidup. Dengan melakukan pengamatan terhadap beberapa bunga dapat diketahui warna, bentuk dan susunan bunganya. Warna, bentuk dan susunan bunga disesuaikan dengan kepentingan tumbuhan tersebut sehingga pada bunga dapat berlangsung penyerbukan dan pembuahan.
Biologi bunga perlu dipelajari untuk menentukan tipe penyerbukan tanaman (penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang). Pengetahuan ini akan sangat penting untuk diketahui khususnya bagi pemulia tanaman apabila akan melakukan persilangan. Menurut Warisno (2007), biologi bunga penting untuk diketahui supaya dapat menentukan keseragaman buah, menentukan pohon induk, dan mengetahui bermacam-macam bunga. Oleh karena itu, dilaksanakanlah praktikum ”Biologi Bunga” ini.


II. TINJAUAN PUSTAKA
Pembiakan tanaman dapat melalui dua cara, yaitu seksual (dengan biji) dan aseksual (dengan vegetatif). Pada pembiakan dengan cara seksual dibentuk sel-sel khusus yang reproduktif dan disebut gamet. Pembentukan sel-sel reproduktif tersebut disebut peristiwa gametosis (Schuler, 1998).
Gametogenesis pada bunga betina (megasporogenesis) menggunakan organ kelamin yang terdiri dari putik (pistil) terdiri atas kepala putik (stigma) dan tangkai putik (style), dan kandung embryo (ovary). Sedangkan organ kelamin jantan melakukan gametogenesis (microsporogenesis) dengan benang sari (stamen) yang terdiri atas tangkai sari (filament) dan kepala sari (anther). Anther memiliki banyak mikrospora (PMC-Pollen Mother Cell) (Mangoendidjojo, 2003).
Biologi bunga antara lain menjelaskan mengenai penyerbukan bunga dan lebih lanjut mengenai pembentukan buah. Hal ini penting diketahui untuk memilih varietas-varietas unggul yang harus dipertahankan dan varietas yang perlu disingkirkan. Penyerbukan bunga ini penting untuk menghasilkan varietas-varietas baru dengan jalan persilangan (Anonim, 2007).
Salah satu masalah dalam hal ini adalah selama masa berbunga tidak semua pucuk dapat terinduksi dan bertransisi dari fase vegetatif ke fase reproduktif. Keberhasilan proses pembungaan dimulai setelah terjadi induksi bunga, diikuti proses diferensiasi, pendewasaan organ-organ bunga, antesis, dan polinasi (Bernier et al. 1985 dalam Rai 2006). Menurut Poerwanto et al. (1997) di Indonesia induksi bunga pada tanaman buah-buahan terjadi secara alamiah pada musim kemarau, karena mengalami stress air.
Dilihat dari bagian-bagian penyusunnya, bunga dapat dibedakan menjadi (Tjitrosoepomo, 2005):
1. Bunga Lengkap : Bunga ini terdiri dari kelopak (calyx), mahkota(corolla), benang sari (androecium) dan putik (gynaecium).
2. Bunga tak Lengkap : Bunga ini tidak memiliki salah satu bagian bunga seperti bunga lengkap, misalnya tidak memiliki kelopak.
3. Bunga Sempurna : Hanya terbatas bahwa bunga ini memiliki benang sari(androecium) dan putik (gynaecium).
4. Bunga tak Sempurna : Bunga ini tidak memiliki benang sari (androecium) atau tidak memiliki putik (gynaecium).
Kelamin pada bunga terbagi menjadi dua macam (Tjitrosoepomo, 2005):
1. Bunga Berkelamin ganda/banci (hermaprodithus), dimana pada satu bunga terdapat benang sari dan putik, dapat pula disebut bunga sempurna.
2. Bunga Berkelamin Tunggal (unisexualis), terbagi menjadi 3 macam yaitu,
a) Bunga yang terdiri dari benang sari saja, yang disebut bunga jantan (flos masculus)
b) Bunga yang terdiri dari putik saja yang disebut bunga betina (flos femineus)
c) Dan bunga yang tidak memiliki kelamin, atau bunga mandul.
Sekelompok bunga (Anonim, 2011) dapat tersusun pada sebuah batang yang terdiri dari cabang utama atau serangkaian cabang yang rumit yang disebut perbungaan (infloresences). Berdasarkan perbungaannya, bunga terbagi atas bunga tunggal (planta uniflora) dan bunga majemuk (planta multiflora). Planta multiflora (bunga majemuk) ini terbagi lagi menjadi beberapa macam menurut sifatnya ketika berbunga, yaitu bunga majemuk tak berbatas (inflorescentia racemosa), bunga majemuk berbatas (inflorescentia cymosa), dan bunga majemuk campuran (inflorescentia mixta). Bunga jagung dan kelapa adalah contoh bunga majemuk tak berbatas.
Di antara metode pemuliaan tanaman adalah melalui persilangan, yaitu persilangan monofaktorial di mana hanya satu gen tunggal yang dianalisis dan persilangan yang melibatkan dua atau lebih gen (Elrod, 2007). Dalam persilangan penting untuk memastikan bahwa transfer tepung sari dari genotip yang dibutuhkan telah mencukupi untuk dapat memproduksi biji dalam kualitas dan kuantitas yang optimal. Maka perlu diperhatikan pula adanya agen-agen penyerbukan untuk menjamin terjadinya transfer (perpindahan) tepung sari menuju ke kepala putik. Dari jenisnya, agen tersebut dapat dibedakan menjadi (Zulfikar, 2009):
1. Agen Biotik. Penyerbukan dengan bantuan agen biotik biasanya terjadi di daerah tropis. Contoh agen biotik : serangga, kelelawar, burung.
2. Agen Abiotik. Penyerbukan dengan bantuan agen abiotik biasa terjadi di daerah temperate. Contoh agen abiotik : angin, air.


III. METODOLOGI
Praktikum Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman acara 1 mengenai Biologi Bunga dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 8 Maret 2011, di laboratorium Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah 9 macam bunga antara lain bunga padi (Oryza sativa), bunga jagung (Zea mays) jantan dan betina, bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), bunga kelapa (Cocos nucifera), bunga pepaya (Carica papaya) jantan, betina dan hermaphrodit, bunga kakao (Theobroma cacao), bunga cabai (Capsicum frutescens), bunga kacang panjang (Vigna sinensis) dan bunga Tomat (Solanum lycopersicum, L).Alat-alat yang digunakan adalah loupe (kaca pembesar) dan alat tulis. Cara kerja dari praktikum ini adalah diamati terlebih dahulu morfologi bunga-bunga yang tersedia. Jika perlu digunakan loupe untuk memperjelas bagian-bagian bunga yang sangat kecil. Setelah diamati, bunga-bunga tersebut digambar dan diberi keterangan
mengenai bagian-bagiannya secara lengkap. Bunga dan bagian-bagiannya, diagram bunga, serta rumus bunganya digambar. Saat membuka dan menutupnya bunga, saat viabilitas pollen dan reseptivitas bunga, tipe penyerbukan bunga berdasar struktur bunganya juga diidentifikasi. Setelah itu diberi tambahan penjelasan dari pustaka yang sesuai.


IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Untuk dapat menyelenggarakan penyerbukan silang buatan dengan hasil yang baik diperlukan pengetahuan tentang sifat-sifat dari kedua jenis tanaman yang akan dipersilangkan dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembungaan, penyerbukan, serta pembentukan buah. Dengan metode pemuliaan tanaman diharapkan dapat menyelenggarakan penyerbukan silang yang baik.
Di dalam ilmu budidaya dan pemuliaan tanaman, mempelajari biologi bunga merupakan salah satu hal yang sangat penting. Dengan mempelajari biologi bunga maka para pemulia tanaman akan dapat melakukan kegiatan pemuliaan tanaman karena dalam biologi bunga akan dipelajari berbagai macam struktur bunga, sehingga bisa diketahui kedudukan benang sari dan putik dari bunga yang bersangkutan. Selain itu juga dapat diketahui tipe persilangan yang terjadi pada tanaman, dan bagaimana sifat tanaman tersebut.

1. Kelapa (Cocos nucifera)

Klasifikasi :
Familia : Palmae
Genus : Cocos
Spesies : Cocos nucifera
Rumus Bunga : ♀ *K 3, C 3, A 0, G (3) ♂ *K 3, C 3, A (6), G 0
Deskripsi :
Karangan bunga kelapa disebut mayang atau manggar. Karangan bunga di bagian luarnya diselubungi oleh manchung (spatha). Panjang manchung rata-rata 80-90cm. karangan bunga terdiri dari induk tangkai bunga dan bercabang-cabang sebanyak 30-40 helai. Kelapa adalah tanaman berumah satu. Pada pangkal cabang-cabang tumbuh bunga-bunga betina (1-2). Bunga betina maupun jantan melekat pada cabang dan tidak bertangkai. Jumlah bunga jantan pada tiap cabang +/- 200 bunga. Selama 2 hari setelah manggar membuka, bunga jantan berangsur-angsur menjadi dewasa dari bagian ujung. Bunga betina tumbuh selama 29 hari lalu berangsur dewasa selama 7 hari. Dengan tidak bersamaannya pendewasaan bunga jantan dan betina, maka tidak terjadi penyerbukan sendiri, kecuali pada varietas genjah.
Bagian-bagian bunga jantan: 3 helai kelopak 3-5mm, 3 helai daun mahkota 15mm, 6 helai benang sari, 1 putik rudimenter dengan kepala putih berhelai 3 lembar, diantara sirip-sirip terdapat nectar. Bunga betina berukuran lebih besar, +/- 3 cm. kelopak bunga tebal dan lebar membungkus hampir seluruh bagian-bagian lainnya. Putik tidak bertangkai, tetapi sisa benang sari (rudimenter) masih tampak tersusun seperti menggelembung (6 buah). Dasar buah terdiri dari 3 ruangan dan tiap ruangan terdapat 1 bakal biji, tetapi hanya 1 yang akan tumbuh normal.
Keterangan pendukung:
saat bunga membuka : setelah seludang bunga terbuka
saat stigma reseptif : saat bunga mulai membuka sampai menutup kembali
tipe penyerbukan : penyerbukan silang (allogaam)
agen penyerbukan : serangga


2. Bunga Tomat
Familia : Solanaceae
Genus : Lycopersicon
Spesies : Lycopersicon esculentum

Rumus bunga : ↑ K (5), C (5), A 5, G 1
Deskripsi :
Bunga tanaman tomat berwarna kuning dan tersusun dalam dompolan dengan jumlah 5-10 bunga per dompolan atau tergantung dari varietasnya. Kuntum bunganya terdiri dari lima helai daun kelopak dan lima helai mahkota. Pada serbuk sari bunga terdapat kantong yang letaknya menjadi satu dan membentuk bumbung yang mengelilingi tangkai kepala putik. Bunga tomat dapat melakukan penyerbukan sendiri karena tipe bunganya berumah satu. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan terjadi penyerbukan silang (Wiryanta, 2004).
Untuk pembentukan bunga yang baik dan pertumbuhan yang cepat maka tanaman terong memerlukan suhu 230 C pada siang hari dan 170 C pada malam hari jadi selisihnya 60 C. Batas toleransi selisih antara malam hari dan siang hari bagi tanaman terong adalah 120 C jadi batas suhu paling rendah bagi tanaman tomat pada malam hari adalah 120 C karena di bawah 100 C bunga terong tidak dapat tumbuh menjadi buah. Pada suhu yang terlalu rendah serbuk sarinya tidak akan berkecambah atau pembentukan serbuk sarinya terganggu. Tanaman terong juga tidak dapat membentuk bunga sama sekali bila mendapat suhu yang terlalu tinggi di waktu malam (Darjanto dan Satifah, 1982).
Keterangan pendukung:
• Saat bunga membuka : pagi hari
• Saat stigma reseptif : saat sudah mengeluarkan lendir, pada bunga
mulai membuka sampai menutup.
• tipe penyerbukan : sendiri (autogami)
• agen penyerbuk : angin dan serangga

3. Bunga Kacang Panjang
Familia : Papilionaceae
Genus : Vigna
Spesies : Vigna sinensis
Rumus Bunga : ↑ K (5), C 5, A 1 + (9), G 1

Deskripsi:
Bunga kacang panjang berbentuk kupu-kupu. Ibu tangkai bunga keluar dari ketiak daun. Setiap ibu tangkai bunga mempunyai 3-5 bunga. Bunga kacang panjang menyerbuk sendiri. Penyerbukan silang dengan bantuan serangga dapat juga terjadi dengan kemungkinan 10%. Tidak setiap bunga dapat menjadi buah. Hanya 1-4 bunga dapat menjadi buah (Haryanto, 2007).
Bunga kacang panjang tidak tumbuh dan mekar secara serentak, mekar pada pagi hari selama sekitar 3 jam mulai pukul 06.00 – 09.00. jika mekar bunga kacang panjang sering didatangi oleh kumbang dan kupu-kupu. Kedua serangga itu membantu terjadinya proses penyerbukan. Bunga mekar dan menutup selama lima hari. Mekanisme mekarnya bunga beragam karena pada tangkai buah terdapat beragam buah. Ada tangkai yang tidak mendukung buah. Ada yang dengan 1-3 buah, dan relatif jarang memiliki 4 buah (Pitojo, 2010).
Keterangan pendukung:
1. saat bunga membuka : antara pukul 06.00-07.00
2. saat stigma reseptif : 21.00- 22.00 (sebelum bunga mekar)
3. tipe penyerbukan : penyerbukan sendiri (autogaam)
4. agen penyerbukkan : angin dan serangga

4. Jagung (Zea mays)
Klasifikasi
Familia : Graminae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays
Rumus bunga : ♀ ↑ K 0, C 6 + 2, A 0, G 1
♂↑ K 2, C (3 + 2), A 3, G 0
Deskripsi :
Perbungaan jantan berbentuk malai (tassel), yang terdiri dari bulir polos tengah dan cabang lateral. Poros tengah biasanya memiliki empat baris pasangan bunga (spikelet) atau lebih. Cabang lateral biasanya terdiri dari dua baris. Setiap pasanganbunga terdiri dari satu bunga duduk (tidak bertangkai) dan satu bunga bertangkai. Perbungaan betina tumbuh pada ujung tongkol samping batang yang berasal dari ketiak daun, biasanya pada sekitar pertengahan panjang batang utama. Batang lateral sangat pendek karena ruasnya yang pendek. Pada setiap buku batang lateral, tumbuh sehelai daun. Karena dekatnya jarak antar buku, daun-daun tersebut saling menutup membentuk kelobot yang membungkus tongkol yang sedang berkembang. Bunga betina terbentuk sebagai spikelet yang berpasangan pada poros tengah pada batang lateral, yang dikenal sebagai tongkol. (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).


5. Bunga Pepaya
Familia : Caricaceae
Genus : Carica
Spesies : Carica papaya

Rumus Bunga : ♂ K 0, [C 5, A 5 + 5], G 0
♀ K 0, C 5, A 0, G (5)
*K (5), [C 5, A 5 + 5], G (5)
Deskripsi:
Menurut Kalie (1996), bunga pepaya termasuk bunga majemuk yang tersusun pada sebuah tangkai (pedunculus). Kelopak bunga majemuk duduk pada tangkai daun. Tanaman pepaya memiliki 3 jenis bunga yaitu :
1. bunga jantan (masculus), adalah bunga yang hanya memiliki benang sari saja (uniseksual)
2. bunga betina (femiculus) adalah bunga yang hanya memiliki putik saja.
3. bunga sempurna (hermaprodit), adalah bunga yang memiliki putik dan benang sari (biseksual).
Merupakan bunga hermaprodit, aktinomorf, tetrasiklis pentamer. Kelopak berada dalam satu lingkaran dengan 5 sepala yang saling berlekatan. Mahkota dalam satu lingkaran dengan 5 petala yang saling berlepasan. Gynaecium dengan 5 pistillum saling berlekatan dan saling menumpang. Tandan bunga majemuk, pentasiklis primer dan simetri aktinomorf. Androecium berada dalam dua lingkaran yang saling berlepasan. Corolla dan androecium saling berlekatan dengan gynaecium yang tidak terbentuk (Rubatzky et.al., 1998).
Pepaya tergolong dalam tanaman polygamus yang pada satu tanaman terdapat satu daun bunga jantan, bunga betina, dan bunga banci bersama-sama. Bunga papaya memiliki bakal buah yang berruang satu (unilocularis) dari satu daun buah saja (Tjitrosoepomo, 1995).
Keterangan pendukung:
• saat bunga membuka : 07.00-10.00
• saat stigma reseptif : setelah stigma mengeluarkan lendir
• tipe penyerbukan : penyerbukan silang (autogaam)
• sifat khusus : bakal buah beruang satu (unilocularis)

6. Bunga Padi
Familia : Graminae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa
Deskripsi :
Bunga padi merupakan bunga telanjang yang mempunyai satu bakal buah, 6 buah benang sari, serta 2 tangkai putik. Bakal buah mengandung cairan untuk kebutuhan lodicula, warnanya keunguan atau ungu tua. Lodicula merupakan daun mahkota yang telah berubah bentuk. Bagian ini sangat berperan dalam pembukaan palea. Fungsi kelenjar lodicula adalah untuk mengatur pembungaan. Lodicula mudah menghisap air dari bakal buah sehingga mengembang. Benang sari terdiri dari tangkai sari dan kandung serbuk. Tangkai sari padi tipis dan pendek, pada kepala sari terletak kandung serbuk yang berisi tepung sari (pollen) (Anonim, 1990).

7. Cabai (Capsium frustecens)
Klasifikasi
Familia : Solanaceae
Genus : Capsium
Spesies : Capsium frustecens
Rumus Bunga : ↑ K 1 + (2), C 2 + 0, A 3, G 1
Deskripsi:
Bunga padi secara keseluruhan disebut malai. Malai terdiri dari 8–10 buku yang menghasilkan cabang–cabang primer selanjutnya menghasilkan cabang–cabang sekunder. Dari buku pangkal malai pada umumnya akan muncul hanya satu cabang primer, tetapi dalam keadaan tertentu buku tersebut dapat menghasilkan 2–3 cabang primer (Tobing, dkk, 1995 dalam Siregar, 2010).
Lemma yaitu bagian bunga floret yang berurat lima dan keras yang sebagian menutupi palea. Ia memiliki suatu ekor. Palea yaitu bagian floret yang berurat tiga yang keras dan sangat pas dengan lemma. Bunga terdiri dari 6 benang sari dan sebuah putik. Enam benang sari tersusun dari dua kelompok kepala sari yang tumbuh pada tangkai benang sari (Suharno, 2005 dalam Siregar 2010). Butir biji adalah bakal buah yang matang, dengan lemma, palea, lemma steril, dan ekor gabah (kalau ada) yang menempel sangat kuat. Buah padi adalah sebuah kariopsis, yaitu biji tunggal yang bersatu dengan kulit bakal buah yang matang (kulit ari), yang membentuk sebuah butir seperti biji. Komponen utama butir biji adalah sekam, kulit beras, endosperm, dan embrio (Suharno, 2005 dalam Siregar 2010).
Keterangan pendukung:
1. saat bunga membuka : antara pukul 06.00-15.30
2. maksimum pembungaan : antara pukul 10.00-12.00 siang
3. saat stigma reseptif : saat bunga membuka
4. tipe penyerbukan : penyerbukan silang
5. agen penyerbukan : angin
6. sifat khusus : kepala putik seperti bulu ayam

8. Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
Klasifikasi
Familia : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Species : Hibiscus rosa-sinensis
Rumus bunga : K5, C5, A ~, G5
Deskripsi :
Kembang sepatu termasuk jenis tanaman perdu dengan tinggi 1-4 m. Bunganya merupakan bunga tunggal yang muncul pada ketiak daun dan posisinya sedikit menggantung. Daun kelopak tambahan 6-9 berbentuk lanset garis, lebih pendek daripada kelopak bunga. Kelopak bunga berbentuk tabung. Daun mahkota bunga berbentuk bulat telur terbalik, bentuk baji, panjang 5,5-5,8 cm berwarna merah darah, kuning atau jingga dengan noda tua pada pangkalnya. Tangkai benang sari berbentuk tabung menyelubungi putik. Panjang benang sari lebih kurang sama dengan panjang mahkota bunga. Bakal bunga beruang lima. Kepala putik dan benang sari terdapat dalam satu tempat yang berbentuk tabung. Pada dasar tabung tersebut terdapat ruang bakal biji atau ruang bakal buah. Pada bunga ini terdapat pula modifikasi dari kelompok bunga (calyx) yang disebut epycalyx. Kelopak bunganya berbentuk bulat telur terbalik dengan warna merah muda dan tersusun bertumpuk-tumpuk (Suryowinoto, 1997).
Bunga sepatu adalah bunga tunggal, aktinomorf, dan berkelamin banci. Perhiasan bunganya terdiri dari 5 petala, adroecium tersusun atas banyak stamen yang jumlahnya tak terhingga. Gynaecium terdiri dari banyak karpela. Perhiasan bunga tambahan berupa epicalyx. Bakal buahnya tenggelam (Tjitrosoepomo, 1985)
Keterangan pendukung:
1. saat bunga membuka : saat pagi hari antara 05.00-09.00
2. saat stigma reseptif : membuka setelah mengeluarkan lendir
3. tipe penyerbukan : sendiri (autogaam)
4. agen penyerbukan : serangga


9. Kakao ( Theobroma cacao )
Klasifikasi
Familia : Sterculiceae
Genus : Theobroma
Spesies : Theobroma cacao
Rumus bunga : ↑ K 5, C 5, A 10, G 1
Deskripsi :
Bunga kakao untuk setiap pohon mencapai 5000 hingga 12000 bunga perpohon pertahun, namun dari sejumlah bunga yang ada yang mampu menjadi buah hanya berkisar 1 % saja. Bunga kakao merupakan bunga sempurna, yang terdiri dari 5 helai daun kelopak (calyx), dan 10 helai benang sari (androecium). Disamping itu bunga kakao termasuk bunga kauliflori, dimana bunga kakao berkembang dari bekas ketiak daun baik pada batang maupun pada cabang. Sebelum tumbuh bunga, pada batang atau cabang bekas ketiak daun mengalami pembesaran dan penebalan yang disebut sebagai bantalan bunga (cushion). Warna bunga kakao putih keungu-unguan atau kemerah-merahan, tergantung dari kultivar kakao (Bahri, 1996).
Merupakan bunga berkelamin dua, aktinomorf, calyx terdiri dari 5 sepala, berlekatan tersusun seperti katub, bentuk lanset, panjang 6-8 mm, putih kadang keunguan. Corolla 5 petala berwarna kuning, panjang 8-9 mm, helaian menggantung. Benang sari tersusun dalam satu satu lingkaran, yang sebelah luar steril tersusun atas 14 staminodia, yang sebelah dalam fertil ada 5 buah tabung benang sari berbentuk periuk. Hanya terdapat 1 gynaecium, bakal buah beruang 5, bunga terletak di batang (Steenis, 1975).
Baik bunga jantan maupun betina letaknya melekat pada cabang. Bunga-bunga tersebut tidak bertangkai (duduk). Bunga jantan terdiri dari 3 helai kelopak bunga berukuran 3-5 mm, 3 helai daun mahkota, 6 benang sari dan 1 putik rudimenter dengan kepala putik bersirip 3 lembar. Diantara sirip-sirip tersebut terdapat nectar (Setyamidjaja, 1989).
Keterangan pendukung:
1. saat bunga membuka : saat pagi hari antara pukul 04.30
2. saat stigma reseptif : setelah pembungaan pada pagi hari
3. tipe penyerbukan : penyerbukan silang (allogaam)
4. agen penyerbukan : serangga

V. KESIMPULAN
Bunga yang memiliki 4 bagian utama yaitu korola, calyx, putik dan benang sari disebut bunga lengkap, sedangkan bunga yang tidak memiliki salah satunya atau lebih disebut bunga tidak lengkap. Bunga yang memiliki putik dan benang sari disebut bunga sempurna, sedangkan bunga yang hanya memiliki satu organ kelamin disebut bunga tidak sempurna.
Bunga yang diamati ada yang termasuk bunga lengkap yaitu bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), bunga tomat (Solanum melongena, L), bunga kacang panjang (Vigna sinensis), bunga cabai (Capsium frutescens) dan bunga kakao (Theobromo cacao). Yang termasuk bunga tidak lengkap yaitu bunga pepaya (Carica papaya), bunga padi (Oryza sativa), bunga jagung (Zea mays) dan bunga kelapa (Cocos nucifera).
Berdasarkan alat-alat kelamin yang terdapat pada masing-masing bunga maka dibedakan menjadi 3 yaitu bunga banci atau berkelamin dua (hermaphroditus), bunga berkelamin tunggal (unisexualis), dan bunga mandul atau tidak berkelamin. Bunga berkelamin tunggal dapat dibedakan menjadi bunga jantan (flos masculus) dan bunga betina (flos femiculus).
Menurut letak bunga jantan dan bunga betina, bunga dapat di bagi menjadi 3, yaitu monoecious atau berumah satu (putik dan benangsari berada dalam 1 tanaman), dioecious atau berumah dua (putik dan benang sari berada dalam 2 tanaman berbeda), dan polygamus (dalam 1 tanaman mempunyai 3 macam bunga yang berbeda). Tipe persilangan/penyerbukannya ada 3 yaitu: penyerbukan tertutup dan terbuka. Tipe penyerbukan terbuka ada 3, yaitu autogamie, allogamie (silang), dan xenogamie (asing).






DAFTAR PUSTAKA



Anonim. 2011. Infloresence. . Diakses 14 Maret 2011.

_______. 2007. Bercocok Tanam Lada. Kanisius, Yogyakarta.

Bahri, S. 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Darjanto dan S. Satifah. 1982. Pengetahuan Dasar Biologi Bunga dan Teknik Penyerbukan Silang Buatan. Gramedia, Jakarta.

Elrod, Susan L. dan William D. Stansfield. 2007. Teori dan Soal-soal Genetika. Edisi Keempat. Erlangga, Jakarta.

Haryanto E., Tina S., dan Estu Rahayu. 2007. Budi Daya Kacang Panjang. Penebar Swadaya, Jakarta.

Ismunadji, M., S. Partohardjono, M. Syam, dan A. Widjono. 1988. Padi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

Kahana, Budi Pamilih. 2008. Strategi pengembangan agribisnis cabai merah di kawasan agropolitan Kabupaten Magelang. Tesis.

Kalie, M. B. 1996. Bertanam Pepaya. Penebar Swadaya, Jakarta.

Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius, Yogyakarta.

Nurmala, T., 1998. Serealia Sumber Karbohidrat Utama. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Pitojo Setijo, 2010. Benih Kacang Panjang. Kanisius, Yogyakarta.

Poerwanto R, Effendi D, Haryadi SS. 1997. Pengaturan pembungaan mangga Gadung 21 di luar musim dengan paklobutrazol dan zat pemecah dormansi. Hayati 4:41-46.

Rai, I Nyoman. 2006. Perubahan kandungan giberelin dan gula total pada fase-fase perkembangan bunga Manggis. Hayati 13 (3) : 101-106.

Rubatzky, V.E and M. Yamaguchi. 1998. World Vegetable . ITB, Bandung.

Setyamidjaja, D. 1989. Bertanam Kelapa. Kanisius. Yogyakarta.

Schuler, L. 1998. Comparation Sum Up the Chromosome of Plant. Agronomy Journal XI (4) : 7-11.

Siregar dan Maulia Surya Darma. 2010. Kajian morfologi dan produksi mutan padi varietas Ciherang hasil radiasi sinar gamma pada generasi M3 dengan menggunakan System Of Rice Intensification (SRI). . Diakses 14 Maret 2011.

Steenis, C.G.G.J. 1975. Flora Untuk Sekolah di Indonesia. Gramedia, Jakarta.

Subekti, N. A., Syafruddin., Roy Efendi dan Sri Sunarti., 2008. Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman serealia, Maros.

Suryowinoto, S.M. 1997. Flora Eksotika, Tanaman Hias Berbunga. Kanisius, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

_________. 1995. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Warisno. 2007. Budi Daya Pepaya. Kanisius, Yogyakarta.

Wiryanta,W.T.B, 2004. Bertanam Tomat. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Zulfikar Achmad. 2009. Penyerbukan dan Pembuahan Bunga. . diakses 14 Maret 2011.