"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

20 Maret 2011

MENENTUKAN IKLIM SUATU TEMPAT



I.    PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk yang bermata pencaharian di bidang pertanian. Produksi pertanian sangat tergantung pada empat faktor utama yaitu keadaan tanaman, keadaan tanah, keadaan iklim, dan pengelolaan oleh manusia.
Keadaan tanaman dan tanah sampai batas tertentu dapat diubah oleh manusia untuk mencapai keadaan yang sangat menguntungkan. Sedangkan iklim merupakan faktor alam yang tidak dapat diubah. Manusia harus mengerti sifat-sifat iklim untuk kemudian menyesuaikan diri seperti sehingga produksi pertanian yang optimal dapat dicapai.
Iklim adalah suatu keseluruhan dari keadaan atmosfir dalam jangka waktu panjang dan berbeda-beda di setiap tempat. Iklim meliputi keadaan-keadaan ekstrim dari tiap-tiap unsur cuaca seperti suhu maksimum-minimum, kelembaban nisbi udara, dan sebagainya. Oleh karena itu mempelajari cara penetuan iklim di suatu tempat penting untuk kesesuaian produksi pertanian.
B.    Tujuan
1.     Melatih mahasiswa menyatukan berbagai anasir iklim guna menentukan tipe iklim.
2.     Melatih mahasiswa mengetahui hubungan tipe iklim dengan keadaan tanaman setempat

II.    TINJAUAN PUSTAKA
Sistem klasifikasi genetik didasarkan atas sebab terjadinya iklim. Sistem genetik merilis informasi tentang elemen klimatologi dari radiasi matahari, masse udara, tekanan, dll. dan terakhir applied classification system (Khomarudin,2002).
Klasifikasi iklim ini seringkali dinyatakan sebagai tipe hujan, karena data yang dianalisisnya adalah data curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunanya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Ada beberapa klasifikasi iklim yang dikenal, seperti iklim menurut Koppen, Thornthwaite (merupakan klasifikasi iklim yang meliputi skala dunia), serta Mohr, Schmidth Ferguson dan Oldeman (merupakan klasifikasi iklim Indonesia). Untuk penentuan klasifikasi ini telah disepakati datanya harus tersedia paling sedikit 10 tahun yang diperoleh dari satu stasiun klimatologi atau hasil rata-rata dari beberapa stasiun yang tercakup di daerah yang akan ditentukan tipe iklimnya dan data yang dikumpulkan adalah data curah hujan bulanan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsure iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsure-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut (Hanafi, 1988).
Cuaca dan iklim dipandang sebagai salah satu sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan hidup dan kehidupan manusia. Pengaruh cuaca dan iklim juga sangat nyata dalam kehidupan di bumi ini. Iklim di wilayah Indonesia sangat ditentukan oleh variasi dari parameter curah hujan. Variasi curah hujan dipengaruhi oleh mekanisme muson yang terkait dengan angin pasat, mekanisme equatorial dan faktor lokal. Dengan adanya variasi curah hujan yang notabenanya sebagai penentu iklim, maka iklim dapat bermacam-macam atau bervariasi. Oleh karenanya, klasifikasi iklim sangat diperlukan guna mengetahui iklim suatu wilayah (Sudibyakto, 2003).
Iklim telah terbagi sesuai lokasi atau daerah yang telah di determinasikan tidak hanya untuk satu elemen saja tetapi dengan variasi kombinasi variable meteorologi. Dua tempat mungkin memililki temperatur yang sama tapi ada perbedaan curah hujan di sana. Beberapa karakteristik dari distribusi iklim telah diketahui melalui klasifikasi secara astronomi. Ada beberapa klasifikasi iklim sesuai parameter pengukurannya yaitu klasifikasi menurut Mohr, Schmidt dan Fergusson, Oldeman dan Koppen. Di antara keempat jenis klasifikasi iklim ini terdapat persamaan dan perbedaan (Harwitz, et al., 1944).
Variasi-variasi yang kecil sekalipun dalam sirkulasi umum hampir selalu tercermin dalam perubahan elemen-elemen iklim. Beberapa kawasan mengalami peningkatan curah hujan sedangkan kawasan-kawasan yang lain mengalami musim kering. Tidaklah ada suatu cara yang benar-benar sempurna untuk mengklasifikasikan skala variabilitas iklim yang berbeda. Memang benar bahwa perubahan cuaca dari hari ke hari dengan regim cuaca yang berlangsung lebih pendek adalah merupakan sifat alamiah dari cuaca dan tidak mencerminkan variabilitas iklim. Namun demikian, para pakar klimatologi menganggap beberapa regim cuaca berlangsung lebih lama sebagai suatu bentuk variabilitas iklim (Trewartha, et al., 1995).
Peralihan musim merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi musim kemarau dan musim hujan lebih dini sehingga perencanaan pertanian terutama periode tanam dan jenis komoditas dapat disusun sesuai dengan kondisi iklim aktual. Perubahan musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya dapat dilakukan dengan menggunakan indikator penciri musim untuk menentukan apakah wilayah berada pada periode musim hujan, memasuki musim hujan, musim kemarau dan memasuki musim kemarau. Berdasar permasalahan anomali iklim dan iklim bulanan utuk meminimalkan resiko pertanian, maka ada tiga hal yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut yaitu (Irianto, 2003) :
1.  Analisis perkembangan iklim dengan indikator penciri perubahan musim.
2.  Analisis perkiraan curah hujan menggunakan teknik Kalman filter.
3.  Diseminasi informasi anomali iklim dan mitigasinya kepada pengambil kebijakan.
Data iklim (temperatur udara, temperatur udara maksimal, kelembaban relatif, durasi sinar matahari dan curah hujan) yang diperoleh dari BMG dipergunakan untuk menganalisis variasi iklim Indonesia, baik variasi yang disebabkan oleh perbedaan posisi (lintang, bujur), topografi, maupun perbedaan waktu dalam rentang 33 tahun (1956-1989). Ada beberapa hal yang mempengaruhi variasi iklim yang bersifat alami yaitu sebagai berikut:
1.     Faktor-faktor astronomi
 Perubahan posisi permukaan bumi relatif terhadap matahari menyebabkan variasi  iklim dalam skala waktu ribuan tahun.
2.     Komposisi atmosfer
Pada zaman tertier dan quarter, iklim dipengaruhi oleh penurunan konsentrasi CO2 di atmosfer. Jika dibandingkan antara laju penurunan konsentrasi CO2 dan perubahan temperatur udara dapat disimpulkan bahwa pengaruh alami CO2 pada  iklim teramati dalam interval waktu di atas sepuluh ribu tahun.
3.     Struktur permukaan bumi
Perubahan relief permukaan dan perubahan garis pantai berpengaruh pada iklim dalam periode waktu di atas seratus tahun sampai sejuta tahun.  
4.     Konstanta matahari
Variasi radiasi matahari mempengaruhi keadaan iklim di atas periode waktu lebih dari seratus juta tahun (Budyko (1982) cit. Juaeni, 1996).

III.       METODOLOGI
Pada percobaan yang dilaksanakan hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010 di Laboratorium Agroklimatologi, Jurusan Tanah, Fakultas Peratnian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta diamati cara menentukan iklim di suatu tempat berdasarkan data-data yang telah disediakan yaitu sebagai berikut. Data curah hujan (CH) bulanan selama 10 tahun di stasiun Banjarmasin, data rerata suhu udara (T) bulanan, data tinggi tempat dan data pendukung pola tanam, vegetasi dominan, dan tanah.
Cara kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut. Data CH, T, dan h digunakan untuk menganalisis tipe iklim daerah setempat menggunakan sistem klasifikasi Mohr, Schmidt-Fergusson, Oldeman, dan Koppen. Sistem klasifikasi Mohr ditentukan dengan cara membuat tabel dengan kolom-kolom bulan, CH per tahun, CH rerata, dan derajat kebasahan bulan (DKB). Semua data dimasukkan ke dalam tabel, kemudian dihitung curah hujan rerata dari bulan-bulan sejenis. Ditentukan derajat kebasahan bulan masing-masing curah hujan rerata kemudian dimasukkan ke dalam kolom DBK. Dari kolom DBK, dihitung jumlah bulan kering (BK), bulan lembab (BL), dan bulan basah (BB). Tipe iklim daerah setempat ditentukan menurut penggolongan iklim Mohr. Sistem klasifikasi Schmidt-Fergusson ditentukan dengan cara membuat tabel dengan kolom-kolom bulan, CH per tahun dengan kolom DBK pada setiap kolom tahun. Semua data dimasukkan ke dalam tabel, ditentukan DBK tiap data dan dimasukkan ke dalam kolom DBK. Jumlah BK, BL, dan BB dihitung selama 10 tahun. Nilai Q dihitung dengan menggunakan rumus:
��=,������������ ����-������������ ����.
Ditentukan tipe iklim daerah setempat menurut penggolongan iklim Sistem Schmidt dan Fergusson. Sistem klasifikasi Oldeman ditentukan dengan cara membuat tabel dengan kolom-kolom seperti tabel sistem klasifikasi Mohr. Semua data dimasukkan ke dalam tabel, ditentukan DKB tiap data menurut kriteria Mohr. Jumlah rerata BK, BL, dan BB dihitung ke dalam bentuk angka bulat. Berdasarkan pembulatan tersebut, ditentukan tipe iklim daerah setempat dengan menggunakan “sistem klasifikasi Agroklimat”. Sedangkan untuk klasifikasi Koppen, dilakukan dengan menghitung rerata BB, BL, dan BK. Selain itu untuk klasifikasi Koppen dibutuhkan tabel identifikasi tipe iklim untuk menentukan suatu tipe iklim.

IV.       HASIL PENGAMATAN
Lab. Agroklimatologi
Jurusan Tanah Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada

Nama Stasiun : Banjarmasin
Letak Lintang : 3° LS
Elevasi            : 20 m dpl = 0,2 hm dpl

                                             DATA CURAH HUJAN (mm)
Tahun
Jan
Feb
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agsts
Sept
Okt
Nov
Des
1980
364
389
150
258
0
133
164
31
36
0
154
343
1981
340
307
0
340
0
122
179
14
126
83
0
270
1982
422
422
328
239
286
149
42
26
0
28
108
485
1983
0
0
301
151
399
97
142
42
21
236
452
0
1984
394
341
404
397
482
0
420
79
116
132
306
444
1985
496
272
287
273
240
55
67
161
114
100
342
264
1986
387
216
455
219
209
225
132
16
103
170
266
265
1987
395
0
290
0
282
136
0
0
61
95
181
446
1988
457
446
370
249
262
83
178
157
85
234
380
403
1989
280
478
436
307
222
0
184
90
71
646
201
411

1.     Klasifikasi Mohr
Mohr melakukan klasifikasi berdasarkan derajat kebasahan suatu bulan.
Bulan Kering (BK)            : Bulan dengan CH < 60 mm
Bulan Lembab (BL)            : Bulan dengan 60 mm  ≤  CH ≤  100 mm
Bulan Basah (BB)            : Bulan dengan CH > 100 mm

Tabel Data Curah Hujan Bulanan (mm)
Tahun
Jan
Feb
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agsts
Sept
Okt
Nov
Des
1980
364
389
150
258
0
133
164
31
36
0
154
343
1981
340
307
0
340
0
122
179
14
126
83
0
270
1982
422
422
328
239
286
149
42
26
0
28
108
485
1983
0
0
301
151
399
97
142
42
21
236
452
0
1984
394
341
404
397
482
0
420
79
116
132
306
444
1985
496
272
287
273
240
55
67
161
114
100
342
264
1986
387
216
455
219
209
225
132
16
103
170
266
265
1987
395
0
290
0
282
136
0
0
61
95
181
446
1988
457
446
370
249
262
83
178
157
85
234
380
403
1989
280
478
436
307
222
0
184
90
71
646
201
411
Total
3535
2871
3021
2433
2382
1000
1508
616
733
1724
2390
3331
Rerata
353,5
287,1
302,1
243,3
238,2
100,0
150,8
61,6
73,3
172,4
239,0
333,1
Derajat
BB
BB
BB
BB
BB
BL
BB
BL
BL
BB
BB
BB

Keterangan :
Jumlah Bulan Kering (BK)   : 0
Jumlah Bulan Lembab (BL)  : 3
Jumlah Bulan Basah (BB)     : 9

Menurut Mohr, iklim daerah Banjarmasin termasuk iklim golongan I yaitu daerah basah dengan CH melebihi penguapan selama 12 bulan, hampir tanpa periode kering (BL antara 1 – 6).

2.     Sistem klasifikasi Schmidt-Fergusson
F. H. Schmidt dan Fergusson membuat klasifikasi iklim berdasarkan derajat kebasahan bulan menurut kriteria Mohr.

Tabel Data Curah Hujan Bulanan (mm)
Tahun
Jan
Feb
Mar
April
Mei
Juni
Juli
Agsts
Sept
Okt
Nov
Des
1980
BB
BB
BB
BB
BK
BB
BB
BK
BK
BK
BB
BB
1981
BB
BB
BK
BB
BK
BB
BB
BK
BB
BL
BK
BB
1982
BB
BB
BB
BB
BB
BB
BK
BK
BK
BK
BB
BB
1983
BK
BK
BB
BB
BB
BL
BB
BK
BK
BB
BB
BK
1984
BB
BB
BB
BB
BB
BK
BB
BL
BB
BB
BB
BB
1985
BB
BB
BB
BB
BB
BK
BL
BB
BB
BB
BB
BB
1986
BB
BB
BB
BB
BB
BB
BB
BK
BB
BB
BB
BB
1987
BB
BK
BB
BK
BB
BB
BK
BK
BL
BL
BB
BB
1988
BB
BB
BB
BB
BB
BL
BB
BB
BL
BB
BB
BB
1989
BB
BB
BB
BB
BB
BK
BB
BL
BL
BB
BB
BB

Tabel Jumlah BB, BK, dan BL
Tahun
BB
BL
BK
1980
8
0
4
1981
7
1
4
1982
8
0
4
1983
6
1
5
1984
10
1
1
1985
10
1
1
1986
11
0
1
1987
6
2
4
1988
10
2
0
1989
9
2
1
Jumlah
85
10
25
Rerata
8,5
1,0
2,5
Penggolongan iklim ditentukan oleh besarnya rasio Q
Q = ,������������ ����-������������ ����.
    = ,2,5-8,5.
    = 0.29 à Golongan B
Daerah Banjarmasin menurut perhitungan Schmidt dan Fergusson termasuk dalam iklim golongan B ( 0,143 ≤ Q < 0,333) yaitu daerah  basah, vegetasi hutan hujan tropis.

3.     Klasifikasi Oldeman
Kriteria derajat kebasahan bulan menurut Oldeman adalah :
Bulan Kering (BK)            : Bulan dengan CH < 100 mm
Bulan Lembab (BB)            : Bulan dengan 100 mm ≤ CH ≤ 200 mm
Bulan Basah (BB)            : Bulan dengan CH > 200 mm

Tabel Data Curah Hujan Bulanan (mm)
Tahun
Jan
Feb
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agsts
Sept
Okt
Nov
Des
1980
BB
BB
BL
BB
BK
BL
BL
BK
BK
BK
BL
BB
1981
BB
BB
BK
BB
BK
BL
BL
BK
BL
BK
BK
BB
1982
BB
BB
BB
BB
BB
BL
BK
BK
BK
BK
BL
BB
1983
BK
BK
BB
BL
BB
BK
BL
BK
BK
BB
BB
BK
1984
BB
BB
BB
BB
BB
BK
BB
BK
BL
BL
BB
BB
1985
BB
BB
BB
BB
BB
BK
BK
BL
BL
BL
BB
BB
1986
BB
BB
BB
BB
BB
BB
BL
BK
BL
BL
BB
BB
1987
BB
BK
BB
BK
BB
BL
BK
BK
BK
BK
BL
BB
1988
BB
BB
BB
BB
BB
BK
BL
BL
BL
BB
BB
BB
1989
BB
BB
BB
BB
BB
BK
BL
BK
BK
BB
BB
BB
 



Tabel Jumlah BB, BL dan BK
Tahun
BB
BL
BK
1980
4
4
4
1981
4
3
5
1982
6
2
4
1983
4
2
6
1984
8
2
2
1985
7
3
2
1986
8
3
1
1987
4
2
6
1988
8
2
2
1989
8
1
3
Jumlah
61
24
35
Rerata
6,1
2,4
3,5
Pembulatan
6
2
4

Jumlah rerata = BB =  6
                          BL = 2  
                          BK = 4

Dengan segitiga agroklimat dapat ditentukan bahwa :

Periode Lembab
(BL)
100 mm ≤ CH ≤ 200 mm


Periode Kering (BK)
CH < 100 mm
new segitiga



















Periode Basah
(BB)
CH > 200 mm



Oldeman menggolongkan zona iklim, dengan bantuan segitiga agroklimat menurut jumlah bulan basah yang berurutan. Dengan segitiga agroklimat dapat diketahui bahwa pada daerah Banjarmasin, memiliki iklim bertipe C3 artinya daerah dengan 5-6 BB berurutan dan 4-6 BK sehingga periode bero tidak dapat dihindari, namun penanaman 2 tanaman bergantian masih mungkin dilakukan.

4.     Klasifikasi Koppen
Tabel Data Curah Hujan Bulanan (mm)
Tahun
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Juni
Juli
Agst
Sept
Okt
Nov
Des
jumlah CH
1980
364
389
150
258
0
133
164
31
36
0
154
343
2022
1981
340
307
0
340
0
122
179
14
126
83
0
270
1781
1982
422
422
328
239
286
149
42
26
0
28
108
485
2535
1983
0
0
301
151
399
97
142
42
21
236
452
0
1841
1984
394
341
404
397
482
0
420
79
116
132
306
444
3515
1985
496
272
287
273
240
55
67
161
114
100
342
264
2671
1986
387
216
455
219
209
225
132
16
103
170
266
265
2663
1987
395
0
290
0
282
136
0
0
61
95
181
446
1886
1988
457
446
370
249
262
83
178
157
85
234
380
403
3304
1989
280
478
436
307
222
0
184
90
71
646
201
411
3326
Total
25544
Rerata
2554,4
                       
Tabel T Braak
Tabel Tmax, Tmin, dan rerata dengan h = 0,2 hm dpl
    Bulan
Rumus T max
T max (oC)
Rumus T min
T min (oC)
T rerata (oC)
Jan
T : 30.8 - 0.0062h
30.79
T : 23.3 – 0.0054h
23.29
27.04
Feb
T : 30.7 - 0.0061h
30.69
T : 23.3 – 0.0053h
23.29
26.99
Maret
T : 31.1 - 0.0062h
31.09
T : 23.3 – 0.0054h
23.29
27.19
April
T : 31.4 - 0.0061h
31.39
T : 22.9 – 0.0052h
22.89
27.14
Mei
T : 31.4 - 0.0061h
31.39
T : 22.9 – 0.0051h
22.89
27.14
Juni
T : 31.2 - 0.0061h
31.19
T : 22.7 – 0.0051h
22.69
26.94
Juli
T : 31.1 - 0.0061h
31.09
T : 21.6 – 0.0051h
21.59
26.34
Agsts
T : 31.5 - 0.0061h
31.49
T : 22.0 – 0.0052h
21.99
26.74
Sept
T : 32.0 - 0.0062h
31.99
T : 22.3 – 0.0054h
22.29
27.14
Okt
T : 32.2 - 0.0064h
32.19
T : 22.8 – 0.0055h
22.79
27.49
Nov
T : 32.2 - 0.0064h
32.19
T : 22.8 – 0.0055h
22.79
27.49
Des
T : 31.0 - 0.0062h
30.99
T : 23.3 – 0.0054h
23.29
27.14
Jumlah

376.48

273.08
324.78
Rerata

31.37

22.75
27.06
     
��������������=,�������� ������������+�������� ������������-2.= ,31,37+22,75-2.=27,06

TABEL IDENTIFIKASI

Definisi – definisi :
r  =            rerata CH tahunan observasi =  2554,4 mm = 255,44  cm
T  =            rerata T = 27,06 °C
r1  = jumlah CH yang menurut rumus yang besarnya tergantung T; 
= 2T + 14
    = (2.27,06) + 14
    = 68,12
P1 = jumlah CH bulan terkering menurut rumus yang besarnya tergantung
P1  = 10 – r1
    25
     = 10 –68,12/25
      = 7,275
P2       = jumlah CH bulan terkering observasi = 15
No.
Pernyataan
Y/T
Keterangan
1.
Rerata T bulanan < 10 oC
T
Tmax : 31,37oC
2.
Sebaran CH merata sepanjang tahun
Y
3
CH terpusat pada musim panas
T
T min: 22,75 0C
Trerata : 27.06 oC
CH min : 0  °C
4
Rerata suhu bulan terdingin >18 oC.
Y
5
Suhu terdingin < 3 oC
T
6
Jumlah CH bulanan pada bulan terkering < 60 mm
Y
7
Jumlah CH bulanan  maksimum pada musim hujan (paling tidak CH bulanan maksimum musim hujan = 10 kali jumlah CH bulanan minimum musim kemarau)
T
8
Jumlah CH bulanan maksimum pada musim kemarau (paling tidak jumlah CH bulanan maksimum musim kemarau = 3 kali jumlah CH minimum musim hujan)
T
9
Jumlah CH bulanan minimum musim hujan > 30 mm
T
10
Jumlah CH bulanan maksimum musim hujan > 10 kali jumlah CH bulanan minimum musim kemarau
T
11
Jumlah CH bulanan maksimum musim kemarau > 3 kali jumlah CH bulanan minimum musim hujan  dan jumlah CH bulanan minimum musim hujan <30 mm
Y
12
Tidak ada musim kering (jumlah CH > 30 mm)
T
13
Ada bulan kering, dengan syarat jumlah CH maksimum > 3 kali  atau jumlah CH bulanan minimum < 30 mm
T
14
Rerata T udara bulan terpanas < 0 oC
T


DETERMINASI TIPE IKLIM

1. Tiga iklim (A,C,D) dibedakan terhadap iklim kutub (E) didasarkan atas rerata suhu pada bulan terpanas
     b.        Bila T > 10°C
            tipe iklim A,C,D
            Pindah No. 2
2. Tiga iklim A,C,D dibedakan terhadap iklim kering (B) didasarkan pada penyebaran CH terhadap waktu
       a. Bila CH merata sepanjang tahun dipergunakan rumus :
                        r > 2T + 14
                        tipe iklim A,C,D
                        Pindah No. 3
3. Masing-masing anggota tiga iklim (A,C,D) satu dengan lainnya dibedakan berdasarkan rerata suhu bulanan terdingin :
a.        Bila T > 18°C
       tipe iklim A
       Pindah No. 4      
4. Perbedaan antara Af, Am dan Aw didasarkan pada CH tahunan (r) dan CH pada bulan terkering (p):
     a.       Bila p2 < 60 mm
            tipe iklim Am, Aw
            Pindah No. 4b
     b.       Untuk membedakan Am dan Aw menggunakan rumus p1 =
   Tipe iklim Aw.                                           
P1 : 7,275
P2 : 0                                   
Jadi P2< P1 sehingga tipe iklimnya adalah Aw. Tipe Aw merupakan daerah iklim hujan tropis (tropical rainy climate). Daerah ini beriklim panas dengan suhu rerata bulanan > 18ºC. di daerah ini sekurang-kurangnya 1 bulan dengan curah hujan <60mm.

V.         PEMBAHASAN
Dalam praktikum ini, pengklasifikasian iklim dari tahun ke tahun diamati dengan perbandingan berbagai metode pengklasifikasian. Pengklasifikasian tersebut yaitu dengan sistem pengklasifikasian Mohr, Schmidt dan Fergusson, Oldeman, dan Koppen. Unsur-unsur iklim yang menunjukkan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang dipakai yaitu suhu dan curah hujan. Karena itulah Hanafi (1988) menyebut pengklasifikasian iklim ini dengan klasifikasi iklim tipe hujan.Pengklasifikasian iklim yang dicetuskan oleh beberapa ahli tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun melalui pengklasifikasian iklim tersebut dapat memudahkan dalam mengidentifikasi iklim pada suatu daerah, karena pengklasifikasian iklim tersebut menyederhanakan jumlah iklim lokal yang tidak terbatas jumlahnya menjadi beberapa golongan yang jumlahnya relatif sedikit, yaitu kelas-kelas yang mempunyai sifat penting yang bersamaan.
Sistem klasifikasi iklim menurut Mohr ditentukan oleh jumlah bulan basah dan bulan kering suatu tempat untuk tiap-tiap bulan. Mohr mengklasifikasikan bulan sebagai BK (bulan dengan CH<60 mm), BL (bulan dengan 100>CH>60mm), BB (bulan dengan CH>100 mm). Bulan basah merupakan bulan yang curah hujannya dalam 1 bulan lebih dari 100 mm. Untuk lokasi Banjarmasin, hujan terjadi hampir tiap bulan berkisar mulai 61,6 mm sampai 353,5 mm. Hasil tersebut adalah rata-rata setiap bulan untuk periode tahun 1980 sampai tahun 1989. Berdasarkan klasifikasi ini, maka hasil pengamatan curah hujan di stasiun pengamatan Banjarmasin mendapatkan hasil bahwa jumlah BK=0, BL=3, dan  BB=9; sebagaimana terlihat dalam tabel di bahwa ini:
Tabel Penentuan BK, BL, dan BB berdasarkan Klasifikasi Iklim Mohr
1980-1989
Jan.
Feb.
Mar
Apr.
Mei
Jun
Juli
Agust.
Sept.
Okt.
Nov.
Des.
Rerata
353,5
287,1
302,1
243,3
238,2
100,0
150,8
61,6
73,3
172,4
239,0
333,1
Derajat
BB
BB
BB
BB
BB
BL
BB
BL
BL
BB
BB
BB

 Berdasarkan metode Mohr dapat diketahui bahwa daerah Banjarmasin,termasuk golongan I yaitu daerah dengan CH melebihi penguapan selama 12 bulan, hampir tanpa periode kering (BL antara 1-6). Dengan metode Mohr ini, pengklasifikasian iklim hanya didasarkan pada penguapan dan besarnya curah hujan. Jadi cara ini cukup praktis untuk mengamati iklim suatu daerah selama 10 tahun. Data curah hujan bulanan dapat dijadikan acuan pergeseran iklim tiap bulan. Namun demikian sistem pengklasifikasian dengan cara ini juga memiliki kekurangan. Kekurangannya adalah pengklasifikasiannya didasarkan hanya pada rata-rata bulanan sehingga kurang sesuai untuk memberi gambaran secara sempurna mengenai keadaan iklim Indonesia, tidak mengikutsertakan sifat fisis suatu tanah yang juga dapat memberi pengaruh pada penentuan iklim. Padahal dalam menentukan keadaan suatu iklim diperlukan beberapa parameter yang dapat menunjang hasil pengamatan suatu iklim  di suatu daerah. Selain itu, dengan metode klasifikasi ini, tidak dapat diketahui pergeseran iklim tiap tahun, dasar penentuannya hanya dari curah hujan sehingga hanya dapat digunakan untuk menentukan iklim di daerah dengan curah hujan stabil maupun periodik.
Sistem klasifikasi yang kedua yaitu, sistem Schmidt-Fergusson. Sistem ini sangat terkenal di Indonesia. Pengklasifikasian iklim dengan cara ini banyak digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt dan Fergusson didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering pada klasifikasi iklim Mohr. Penentuan iklim sistem ini menggunakan harga perbandingan Q, yaitu jumlah rerata bulan kering dengan jumlah rerata bulan basah.
 Tabel  Jumlah BK, BL, dan BB berdasarkan Klasifikasi Iklim Schmidt dan Fergusson

Januari-Desember
tahun
∑ BB
∑ BL
∑ BK
1980
8
0
4
1981
7
1
4
 1982
8
0
4
1983
6
1
5
1984
10
1
1
1985
10
1
1
1986
11
0
1
1987
6
2
4
1988
10
2
0
1989
9\
2
1
rerata
8,5
1,0
2,5

Berdasarkan perhitungan (yaitu rerata BK dibagi dengan rerata BB), diperoleh harga Q=0,29 sehingga tipe iklim di stasiun pengamatan Banjarmasin ini adalah tipe iklim Golongan B (dengan nilai 0,143≤Q<0,333); yaitu daerah basah dengan vegetasi hutan hujan tropis. Hasil perhitungan data dari tahun 1980 sampai tahun 1989 menyajikan jumlah bulan basah sebanyak 85, bulan lembab sebanyak 10 dan bulan kering sebanyak 25.



Sistem klasifikasi Schmidt-Fergusson ini memiliki kesamaan dengan sistem Mohr, yaitu didasarkan atas bulan kering dan bulan basah. Hanya saja, Mohr mencari bulan basah dan bulan kering melalui harga rata-rata curah hujan untuk tiap bulan, dan Schmidt dan Fergusson melalui pencarian setiap bulannya untuk masing-masing satu tahun. Sistem klasifikasi Schmidt-Fergusson memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah mengetahui pergeseran iklim tiap tahun, mempermudah pengamatan dalam melihat kapan terjadinya bulan kering dan bulan basah. Kekurangannya adalah kriteria untuk bulan basah ataupun bulan kering untuk beberapa wilayah terlalu rendah, sehingga terjadi kesulitan dalam mengelompokkan bulan kering dan bulan basah pada suatu daerah.
Sistem klasifikasi iklim menurut Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama tanaman pangan dan palawija. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlangsung secara berturut-turut. Selain itu, Oldeman juga menggunakan istilah bulan basah dan bulan kering untuk membantu penggolongan iklim seperti halnya pada sistem Mohr dan sistem Schmidt-Fergusson. Hanya saja terdapat perbedaan penentuan batas curah hujan. Dalam metode Oldeman , kriteria derajat kebasahan bulan adalah bulan dengan CH>200 mm sebagai BB, bulan dengan 200>CH>100 mm sebagai BL, dan bulan dengan CH<100 mm sebagai BK.

Tabel Jumlah BK, BL, dan BB berdasarkan Klasifikasi Iklim Oldeman

januari-desember
tahun
∑ BB
∑ BL
∑ BK
1980
4
4
4
1981
4
3
5
1982
6
2
4
1983
4
2
6
1984
8
2
2
1985
7
3
2
1986
8
3
1
1987
4
2
6
1988
8
2
2
1989
8
1
3
rerata
6,1
2,4
3,5

6
2
4
Pengklasifikasian iklim menurut metode Oldeman ini dibantu dengan penggunaan “Segitiga Agroklimat” dan dapat diketahui bahwa iklim daerah Banjarmasin termasuk golongan C3. Pada golongan ini, BB berjumlah 5-6 serta periode bero tidak dapat dihindari, namun penanaman 2 tanaman bergantian masih mungkin dilakukan.
. Ketentuan bulan basah dan bulan kering ini didasarkan karena padi sawah dipandang cukup untuk dibudidayakan pada curah hujan 200 mm tiap bulan, sedangkan untuk sebagian besar palawija, jumlah curah hujan minimal yang diperlukan tiap bulan adalah 100 mm. Sistem klasifikasi iklim oleh Oldeman memiliki cara yang lebih efektif dibanding dengan cara-cara sebelumnya seperti dalam sistem Mohr dan Schmidt-Fergusson. Hal ini disebabkan oleh metode Oldeman yang telah mempertimbangkan unsur cuaca yang lain seperti radiasi matahari yang mempengaruhi evapotranspirasi dan kebutuhan air tanaman. Sehingga, dengan memanfaatkan sistem klasifikasi ini, sudah dapat diperkirakan pola tanam dengan keterkaitan antara iklim dan tanaman. Namun sistem ini juga memiliki kekurangan, sistem ini menjadikan curah hujan sebagai salah satu indikator pentingnya. Sehingga, akan terdapat banyak kesulitan dan kendala dalam menentukan wilayah yang mempunyai 4 musim. Selain itu, sistem klasifikasi ini belum dapat menjelaskan pergeseran iklim bulanan.
Sistem klasifikasi Koppen didasarkan perbedaan temperatur dan curah hujan. Koppen menjadikan tiga hal sebagai indikatornya. Indikator tersebut secara berurutan adalah curah hujan, radiasi matahari (suhu udara), dan  kesesuaian lahan. Curah hujan pada sistem Koppen ini diperoleh dengan merata-ratakan jumlah curah hujan yang terjadi tiap tahunnya. Dalam percobaan kali ini, adalah data dari Banjarmasin tahun 1980 – 1989 yaitu berdasarkan sistem klasifikasi ini, maka diperoleh data-data (hasil perhitungan) sebagai berikut :
Nilai r (rerata curah hujan tahunan observasi) =   2554,4 mm = 255,44  cm
Nilai T (rerata suhu) = 27,060C
Nilai r1 (jumlah curah hujan yang besarnya tergantung T) = 68,12 mm
Nilai P1 (jumlah CH bulan terkering dg rumus yang besarnya tergantung r) = 7,275 mm
Nilai  p2 (jumlah bulan terkering observasi) = 0 mm
 Dari data di atas diperoleh nilai rerata curah hujan sebesar 255,44 cm tiap tahun. Dengan membagi 10 nilai curah hujan tersebut diperoleh koefisien korelas  ( r ) sebesar 681,2 cm. Dari penjumlahan T max dan T min yang kemudian dibagi dua diperoleh T rerata ( T ) sebesar 27,060C.. Adapun nilai P1, jumlah curah hujan  terkering yang besarnya tergantung r adalah 7,275 mm  dan P2 curah hujan bulan terkering observasi 0. Nilai C,T,R,P2 dan P1 tersebut akan membantu dalam menentukan tipe iklim di lokasi stasiun Banjarmasin.
Melalui pengolahan data rerata suhu wilayah Banjarmasin lebih 10°C yaitu 31,37°C maka dapat dikelompokkan dalam tipe iklim A,C dan D. Namun masing-masing tipe iklim tersebut dapat dibedakan lagi berdasarkan rerata suhu bulanan terdingin dimana T > 18ºC dan diperoleh bahwa iklim wilayah Banjarmasin adalah tipe A dimana tipe A tersebut merupakan iklim hujan Tropis. Untuk wilayah ini termasuk iklim Aw, karena berdasar data P2 < P1. Tipe iklim ini berkarakter beriklim panas dengan suhu rerata bulanan > 18ºC. di daerah ini sekurang-kurangnya 1 bulan dengan curah hujan >60mm.musim kering pendek tetapi curah hujan besar sehingga tanah cukup basah sepanjang tahun. Sistem klasifikasi iklim Koppen juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan sistem klasifikasi ini adalah terletak dalam penyusunan simbol-simbol tipe iklim yang dengan tepat merumuskan sifat dan curah masing-masing tipe iklim dengan tanda yang terdiri dari kombinasi beberapa huruf saja yang dapat dengan tepat merumuskan sifat dan corak iklim suatu wilayah. Sedangkan, kekurangan sistem klasifikasi iklim ini adalah jika diterapkan di Indonesia, sistem ini kurang dapat menggambarkan kondisi detail iklim Indonesia. Hal ini disebabkan oleh besarnya perbedaan curah hujan wilayah-wilayah di Indonesia. Walaupun, suhu udara tahunannya hampir sama sepanjang tahun.

VI.       KESIMPULAN
  1. Iklim merupakan gabungan kondisi cuaca sehari-hari atau merupakan rata-rata curah hujan, yaitu selama 30 tahun. Klasifikasi ini dapat dibedakan secara genetis dan secara empirik.
  2. Digunakan berbagai macam anasir cuaca untuk menentukan klasifikasi iklim seperti curah hujan, radiasi matahari, ataupun berdasar atas suatu vegetasi.
  3. Pengklasifikasian iklim dapat diketahui melalui sistem klasifikasi iklim menurut Mohr, menurut Schmidt dan Fergusson, menurut Oldeman, dan menurut Koppen.
  4. Klasifikasi iklim untuk wilayah Banjarmasin:
·      Menurut Mohr adalah golongan I, yaitu daerah basah, daerah dengan CH melebihi penguapan selama 12 bulan, hampir tanpa periode kering (BL antara 1-6)
·      Menurut Schmidt- Fergusson adalah tipe iklim golongan B, daerah basah, vegetasi hutan hujan tropis.
·      Menurut Oldeman adalah golongan C3, yaitu periode bero tidak dapat dihindari, namun penanaman 2 tanaman bergantian masih mungkin dilakukan.
·      Menurut Koppen  beriklim Aw, yaitu iklim hujan tropis
  1. Klasifikasi yang cocok untuk Indonesia adalah Mohr dan Schmidt- Fergusson.

DAFTAR PUSTAKA
Hanafi. 1988. Klimatologi. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Bandung.
Harwitz, Benhard, and J. M. Austin. 1944. Climatology. Mc Graw-Hill Book   Company, inc. New York and London.
Irianto, G. 2003. Model Prediksi Anomali Iklim untuk Mengurangi Resiko Pertanian. http://www.baitklimat.litbang.deptan.go.id. Diakses pada 7 Desember 2010.
Juaeni. 1996. Variasi iklim Indonesia. Warta Lapan 20 (49): 46-65.
Khomarudin, M. R. 2002. Mengenali Pola Hujan di Berbagai Kawasan di Indonesia. http://www.rudyet.topcities.com/pps7071034/khomarudin.html. Diakses pada tanggal 7 Desember 2010.
Sudibyakto. 2003. Pengaruh iklim dan cuaca terhadap tanaman. Majalah Geografi Indonesia III. (17) : 71-80.
Trewartha, G. T. and L. H. Horn. 1980. An Introduction to Climate 5 th edition. Mc Graw-Hill Book Company Inc, Madison.