"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

21 Februari 2012

BUDIDAYA KACANG HIJAU (Vigna radiata L.)


Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu komoditas tanaman kacang-kacangan yang banyak dimakan rakyat Indonesia, seperti: bubur kacang hijau dan isi onde-onde, dan lain-lain. Selain itu, tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari yakni sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah. Oleh karena itu perlu dikembangkan lebih baik mengenai budidaya tanaman tersebut dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat dan terampil sejak dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan (termasuk pemupukan, pengairan, penyiangan, dan pengendalian hama dan penyakit), sampai pemanenan dan pemasaran ataupun penanganan pasca panen. Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mampu menerapkan teknik budidaya tanaman semusim secara langsung di lapangan dan menganalisis usaha tani dengan baik. Tanaman tersebut ditanam secara monokultur karena teknis budidaya relatif mudah dan kemungkinan dapat menghasilkan produksi yang tinggi dikarenakan persaingan antara tanaman satu dengan yang lainnya tidak saling mempengaruhi. Lokasi kegiatan dilaksanakan di Kebun Percobaan Banguntapan Bantul Yogyakarta, dimulai awal bulan September sampai pertengahan Desember 2011. Percobaan dilakukan pada jenis tanah regosol dengan luas lahan total 70 m2. Bahan-bahan yang digunakan antara lain benih kacang hijau, Pupuk Kandang, Phonska, dan pestisida bila diperlukan. Alat-alat yang digunakan meliputi alat pengolahan tanah (cangkul, cetok, tugal, patok, rafia, dan ember), alat pemeliharaan tanaman (sprayer, pipa pengairan, dan sabit), dan alat untuk pengamatan (meteran, alat tulis, dan tabel pengamatan).



I.       PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Tanaman semusim didefinisikan sebagai tanaman yang menyelesaikan satu siklus hidupnya dalam satu musim tanam. Hasil komoditas tanaman semusim pada umumnya merupakan kebutuhan pangan pokok bagi masyarakat, seperti padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan shorgum.padi merupakan makanan poko terutama bagi penduduk Indonesia, sedangkan jagung dan shorgum merupakan sumber karbohidrat selain padi. Komoditas kacang-kacangan pada umumnya merupakan sumber protein nabati.
Satu-satunya cara untuk memperoleh komoditas bahan-bahan pangan tersebut adalah melalui usaha budidaya tanaman atau produksi tanaman (crop production). Sampai saat ini belum ditemukan metode lain untuk tujuan tersebtu. Oleh karena itu, teknik-teknik budidaya tanaman khususnya tanaman semusim wajib dikuasai terutama oleh pelaku-pelaku bidang pertanian termasuk di dalamnya mahasiswa fakultas pertanian.
Kacang hijau merupakan salah satu komoditas kacang-kacangan yang banyak dimakan rakyat Indonesia. Tanaman ini selain banyak mengandung zat-zat gizi juga bermanfaat untuk proses pengobatan. Secara agronomis dan ekonomis, tanaman kacang hijau memiliki kelebihan dibanding tanaman kacang-kacangan lainnya. Meskipun tanaman kacang hijau memiliki banyak manfaat, namun tanaman ini masih kurang mendapatkan perhatian petani untuk dibudidayakan. Permintaan pasar terhadap kacang hijau terus mengalami peningkatan sedangkan produksi di dalam negeri masih rendah. Sebagian besar kebutuhan kacang hijau domestik untuk pakan atau industri pakan dan sebagian lainnya untuk pangan, dan kebutuhan industri lainnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, produksi kacang hijau nasional juga berpeluang besar untuk memasok sebagian pasar kacang hijau dunia.
Klasifikasi taksonomi tanaman kacang hijau adalah sebagai berikut
Kingdom               : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
          : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
           : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
                     : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
                    : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas
             : Rosidae
Ordo
                     : Fabales
Famili
                    : Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus
                    : Phaseolus
Spesies
                  : Vigna radiata L.
Kacang hijau merupakan salah satu komoditas pertanian yang telah dikembangkan sejak dahulu dan permintaan akan kacang hijau dari tahun ke tahun semakin meningkat. Tanaman kacang hijau memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan. Dibanding dengan tanaman kacang-kacangan lainnya, kacang hijau memiliki kelebihan ditinjau dari segi agronomi dan ekonomis, seperti: (a) lebih tahan kekeringan, (b) serangan hama dan penyakit lebih sedikit, (c) dapat dipanen pada umur 55-60 hari, (d) dapat ditanam pada tanah yang kurang subur, dan (e) cara budidayanya mudah (Sunantara, 2000).Oleh karena itu, sangat penting bagi mahasiswa untuk dapat mengetahui teknik budidaya kacang hijau baik secara teori maupun aplikasi dan prakteknya secara langsung di lapangan.
Kacang hijau (Vigna radiata) merupakan salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas selain beras. Karena tergolong tinggi penggunaannya dalam masyarakat, maka kacang hijau ini memiliki tingkat kebutuhan yang cukup tinggi. Dengan teknik budidaya dan penanaman yang relatif mudah budidaya tanaman kacang hijau memiliki prospek yang baik untuk menjadi peluang usaha bidang agrobisnis. Pada umumnya, kacang hijau umumnya ditanam di lahan sawah pada musim kemarau setelah padi atau tanaman palawija yang lain. Adapun kegiatan dalam budidaya tanaman semusim secara umum dimulai dari persiapan lahan, penanaman benih, pengairan, pemupukan, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, pemanenan serta penanganan pasca panen. Proses fotosintesis merupakan dasar dari usaha budidaya tanaman.
B.     Tujuan
1.      Mempraktikkan teori budidaya tanaman semusim secara langsung, khususnya budidaya tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.).
2.      Meningkatkan pengalaman lapangan bagi praktikan sehingga lebih peka terhadap masalah-masalah yang mungkin timbul dalam usaha budidaya tanaman semusim.
3.      Mempraktikkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Praktikum Budidaya Tanaman Semusim : Dasa-Dasar Agronomi, Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman, Ilmu Perlindungan Tanaman, Ilmu Gulma, Fisiologi Tanaman, Ekologi Tanaman, Klimatologi Pertanian, Kesuburan Tanah, Dasar Manajemen, Analisis Usaha Tani, dan lain-lain.

II.    TINJAUAN PUSTAKA
Kacang hijau merupakan salah satu komoditas kacang-kacangan yang banyak dimakan rakyat Indonesia. Tanaman ini selain banyak mengandung zat-zat gizi juga bermanfaat untuk proses pengobatan. Secara agronomis dan ekonomis, tanaman kacang hijau memiliki kelebihan dibanding tanaman kacang-kacangan lainnya (Atman, 2007). Menurut Balitkabi (2005), semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok di tanam di lahan sawah. Namun, untuk daerah endemik penyakit embun tepung dan bercak daun (Cercospora) dianjurkan menanam varietas Sriti, Kenari, Perkutut, Murai, dan Kutilang. Diharapkan petani mempunyai banyak pilihan dalam menggunakan varietas kacang hijau yang mereka sukai.
Kacang hijau dapat tumbuh pada semua jenis tanah sepanjang kelembaban dan tersedianya unsur hara yang cukup. Untuk itu lahan yang akan dipergunakan harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Pada lahan sawah setelah panen padi, tidak perlu dilakukan pengolahan tanah (tanpa olah tanah=TOT) (Atman, 2007). Pada umumnya petani melakukan penanaman benih kacang hijau sesudah padi dengan cara sebar benih sebelum atau sesudah padi dipanen. Sebar benih kacang hijau setelah padi dipanen dilakukan dengan atau tanpa pembabatan jerami, dan benih yang diperlukan berkisar 50-75 kg/ha (Hilman et.al., 2004).
Sunantara (2000) menyarankan pemberian pupuk sebanyak 50 kg Urea + 60 kg SP36 + 50 kg KCl/ha. Pupuk diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman. Bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 15-20 t/ha atau abu dapur/abu hasil pembakaran jerami sebanyak 5 t/ha sangat baik diaplikasikan untuk menutup lubang tanam.
Kassam dan Kowal (1973) melaporkan fotosintesis optimum untuk tanaman C3
terjadi pada intensitas radiasi dari 0,15-0,60 cal/cm2/min atau 216-864 cal/cm2/hari, saat
kejenuhan daun tercapai. Fotosintesis daun meningkat dengan radiasi matahari
ke titik jenuh luar yang ada peningkatan lebih sedikit atau bahkan tidak pada
fotosintesis.
Kacang hijau termasuk tanaman yang toleran terhadap kekurangan air, yang penting tanah cukup kelembabannya. Namun, bila tanah pertanaman kacang hijau kekeringan sebaiknya segera diairi terutama pada periode kritis, yaitu: saat tanam, saat berbunga (umur 25 hst), dan saat pengisian polong (umur 45-50 hst) (Sunantara, 2000). Untuk kacang hijau yang ditanam di tanah bertekstur ringan (berpasir), umumnya pengairan dilakukan dua kali yaitu umur 21 dan 38 hst, sedangkan pertanaman di tanah bertekstur berat (lempung), biasanya diperlukan pengairan hanya satu kali (Balitkabi, 2005).
Serangan hama merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya hasil di tingkat petani. Dilaporkan terdapat sebanyak 30 jenis serangga yang telah diketahui merupakan hama kacang hijau dan 20 jenis digolongkan sebagai hama penting yang dapat menurunkan kualitas tanaman kacang hijau. Hama ini menyerang seluruh bagian tanaman kacang hijau sejak tanaman tumbuh sampai panen (Tengkano, 1986 cit LPTP, 2000). Diantara hama penting kacang hijau tersebut adalah: lalat bibit Ophyomia phaseoli, ulat jengkal Plusia chalsites, kepik hijau Nezara viridula, kepik coklat Riptortus linearis, penggerek polong (Maruca testulalis dan Etiella spp.) dan kutu thrips (Hilman, et al., 2004).
Menurut Atman (2007), umur panen barvariasi tergantung varietas yang ditanam. Panen dilakukan bila polong berwarna hitam atau coklat serta telah kering dan mudah pecah. Panen dapat dilakukan satu, dua, atau tiga kali tergantung varietas yang ditanam. Andersen (2006) mengatakan, setelah biji dipanen dan dikeringkan, biji dapat disimpan dalam wadah gelas / kaca dan disimpan untuk beberapa tahun. Pembekuan biji akan menghilangkan kutu serangga dan menjaga viabilitas biji. Biji dapat disimpan untuk diajdikan kecambah (tauge) atau untuk penanaman tahun berikutnya.



III.  METODOLOGI
A.     Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah benih kacang hijau, pupuk kandang dan phonska. Alat-alat yang dipergunakan meliputi alat pengolahan tanah (cangkul, sabit, cetok, tugal, patok, rafia, dan ember), alat pemeliharaan tanaman (sprayer, pipa pengairan, dan sabit), dan alat untuk pengamatan (meteran, alat tulis, dan tabel pengamatan).

B. Lokasi dan Waktu
Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian di Banguntapan, Bantul Yogyakarta, September – Desember 2011, pada lahan seluas 70 m2 dengan jenis tanah Regosol ketinggian + 113 m dpl.

C. Pelaksanaan Budidaya
a.    Persiapan Lahan. Pengolahan tanah dilakukan intensif, dibersihkan dari rumput dan dicangkul hingga gembur (Anonim, 2011). Pada lahan kering/tegalan tanah dibajak sedalam 15-20 cm, lalu digaru, dan diratakan, dibersihkan dari sisa tanaman dan gulma dan dibuat bedengan selebar 3-5 meter. Antar bedengan dibuat saluran drainase dalam 30 cm dan lebar 30 cm yang berfungsi sebagai saluran drainase pada musim hujan dan saluran irigasi pada saat kering (Epetani, 2010).
b.    Penanaman Benih. Penanaman dengan pola monokultur, yaitu menanam satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama dalam satu musim tanam. Model budidaya ini bertujuan untuk meraih produktivitas tinggi karena tidak adanya persaingan antara tanaman yang berbeda serta efisiensi ekonomi dan kemudahan (dalam hal pemberian pupuk dan pemeliharaan). Dalam situs resmi BPTP dijelaskan bahwa benih kacang hijau ditanam dengan cara tugal, kedalaman lubang tanam 3-5 cm, dengan jarak 40 cm x 10 cm, tiap lubang diisi 2 biji (berat 100 butir biji = 6 gram) (Anonim, 2011), namun untuk mempermudah maka diberikan jarak tanam 20 x 20 cm. Lubang tanam ditutup dengan tanah atau jerami yang telah dipotong dijadikan mulsa segera setelah pemupukan dan tanam. Kebutuhan benih kacang hijau untuk praktikum ini adalah 150g/40m2.
c.    Pengairan. Tanaman kacang hijau relatif tahan kering, namun tetap memerlukan pengairan terutama pada periode kritis pada waktu perkecambahan, menjelang berbungan dan pembentukan polong (BPTP, 2011). Periode kritis tanaman terhadap air adalah pada saat tanam dan pada saat berbunga (umur 25 hari), pembentukan dan pengisian polong (umur 45 hari). Pada masa lainnya jumlah air yang dibutuhkan relatif sedikit. Pengairan dilakukan melalui selokan antar bedengan.
d.    Pemupukan. Pemupukan dilakukan secara semi organik menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk dasar dan pupuk lengkap phonska untuk memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Penambahan pupuk organik seperti pupuk kandang dapat meningkatkan kapasitas menahan air didalam tanah. Pada tanah yang kurang subur kebutuhan pemupukan 45 kg Urea + 45 - 90 kg TSP + 50 kg KCL/ha (BPPT, 2011). Dosis phonska yang akan diberikan adalah 0, 50, 100, 150 kg/ha. Pemupukan tanaman kacang hijau dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya pupuk disebar dan di campur dalam tanah dengan baik sebelum tanam atau pupuk diletakkan sedalam biji yang ditanam dengan jarak antara 3-5 cm dari biji tadi. Pemberian pupuk secara local pada sisi dan bawah benih dengan jarak dan kedalaman tertentu merupakan cara yang paling efisien dari pada diberikan dengan cara disebar. Perlu dijaga agar pupuk yang diberikan tidak kontak langsung dengan benih karena dapat mengakibatkan kerusakan benih dan menghambat perkecambahan. Pemberian pupuk pada jalur tempat benih sedalam 5 cm kemudian ditutup dengan tanah sampai rata. Pupuk ini di berikan pada saat tanam mengingat umur kacang hijau yang relative pendek.
e.    Pemeliharaan. Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur tidak lebih dari 7 hari. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertama.
f.     Pengendalian Gulma, Hama dan Penyakit. Penyiangan dilakukan seawal mungkin karena kacang hijau tidak tahan bersaing dengan gulma. Penyiangan dilakukan 2 kali pada umur 2 dan 4 minggu. Hama yang sering menyerang adalah Agromyza phaseolli (lalat kacang), Meruca testualitis, Spidoptera sp, Plusia chalsites (ulat) dan kutu trips.    Penyakit kacang hijau yang sering ditemui antara lain Scierotium rolfsii, Cercospora Canescens (bercak daun). Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan varietas unggul yang tahan hama penyakit. Penggunaan pestisida dan atau fungisida dilakukan apabila serangan hama tidak dapat dikendalikan dengan cara biologi (BPTP, 2011). Selama masa tanam dilakukan pengamatan lingkungan biotic (kondisi tanaman yang dibudidayakan, serta hewan dan tumbuhan lain di lingkungan) dan abiotik (cuaca, suhu, lengas, presipitasi).
g.    Pemanenan. Kacang hijau dipanen sesuai dengan umur varietas, biasanya dipanen pada umur 55-60 hari. Tanda-tanda lain bahwa kacang hijau telah siap untuk di panen adalah berubahnya warna polong dari hijau menjadi hitam atau coklat dan kering. Keterlambatan panen dapat mengakibatkan polong pecah saat dilapangan. Panen dilakukan dengan cara dipetik. Panen dapat dilakukan satu, dua atau tiga kali tergantung varietas. Jarak antara panen kesatu dan ke dua 3-5 hari. Pada pasca panen, pengeringan polong dilakukan selama 2-3 hari dibawah sinar matahari. Pembijian dilakukan secara manual yaitu memasukkan polong ke dalam plastic lalu dipukul-pukul dengan tongkat kayu. Pembijian dilakukan di dalam kantong atau karung untuk menghindari kehilangan hasil. Pembersihan biji dari kulit polong dilakukan dengan tampi/nyaru. Sebelum disimpan biji kacang hijau di jemur kembali sampai mencapai kering simpan yaitu kadar air 8 - 10 %.

IV.  HASIL PENGAMATAN

1. Tinggi tanaman
Perlakuan
TT1
TT2
TT3
TT4
TT5
TT6
TT7
TT8
A
6,0533a
8,952a
11,752a
18,5a
29,332a
42,167a
50,832a
57,417a
B
5,52a
8a
12,170a
19,165a
26,085a
40,315a
51,080a
54,830a
C
6,45a
7,935a
10,585a
19,335a
30,5a
43,835a
52,320a
56,465a
D
6,15a
7,617a
10,667a
18,250a
27,083a
46a
57,833a
65a
Keterangan :
A : Kontrol
B : pupuk dosis 50
C : pupuk dosis 150
D : pupuk dosis 100
2. Jumlah Daun
Perlakuan
JD1
JD2
JD3
JD4
JD5
JD6
JD7
JD8
A
3,5a
4,5a
6,5a
7,5a
9,5a
11a
11,5a
10,89c
B
3a
4a
6a
7a
9a
11a
15a
16,0550a
C
3,5a
4a
6a
8a
10a
11,5a
14a
14,5ab
D
3a
4,5a
6a
8a
10,5a
10,5a
12a
12,445bc
Keterangan :
A : Kontrol
B : pupuk dosis 50
C : pupuk dosis 150
D : pupuk dosis 100

3.  Berat Segar
Perlakuan
BS1
BS2
BS3
A
0,4583a
10,388a
72,01a
B
0,2867a
7,168a
107,97a
C
0,25a
9,463a
91,67a
D
0,1833a
6,420a
101,29a
Keterangan :
A : Kontrol
B : pupuk dosis 50
C : pupuk dosis 150
D : pupuk dosis 100
4.  Berat Kering
Perlakuan
BK1
B2
BK3
A
0,17333a
1,9a
18,293a
B
0,13667ab
1,3184a
27,425a
C
0,13833ab
1,9118a
19,415a
D
0,12b
1,235a
25,168a
Keterangan :
A : Kontrol
B : pupuk dosis 50
C : pupuk dosis 150
D : pupuk dosis 100


5.  Luas Daun
Perlakuan
LD1
LD2
LD3
A
13,975a
192,8a
772,1a
B
9,336a
301,8a
1199a
C
8,903a
339,9a
980,7a
D
7,942a
428,4a
1068,7a
Keterangan :
A : Kontrol
B : pupuk dosis 50
C : pupuk dosis 150
D : pupuk dosis 100
  
V.     PEMBAHASAN


Daun adalah salah satu organ terpenting pada tanaman. Fungsi utama daun adalah sebagai salah satu tempat berlangsungnya system metabolism terpenting pada tanaman yaitu fotosintesis. Banyak sedikitnya daun pada tanaman berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Berdasarkan table diatas  perbedaan perlakuan yang diberikan pada tanaman belum menunjukkan perbedaan pada jumlah daun yang tumbuh pada pengamatan minggu pertama sampai dengan minggu keenam. Namun ketika memasuki minggu ketujuh dan minggu kedelapan, perlakuan B menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dari perlakuan yang lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah daun yang lebih banyak daripada perlakuan yang lainnya. Adapun beberapa factor yang menyebabkan mengapa pertumbuhan tanaman kacang hijau, khususnya jumlah daun yang tumbuh dengan dosis pupuk 50 lebih baik daripada dosis 100 dan 150, yaitu gulma yang lebih banyak tumbuh pada petak dengan dosis 100 dan 150, hal ini menyebabkan kompetisi antara tanaman kacang hijau dengan gulma menjadi semakin tinggi sehingga berimplikasi pada pertumbuhan daun kacang hijau yang terhambat.
Luas daun sangat berpengaruh pada aktifitas fotosintesis tanaman. Daun yang permukaannya lebar akan menangkap sinar matahari dalam jumlah yang banyak, sehingga memaksimalkan laju fotosintesis tanaman. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada menyediaan makanan bagi tanaman dan akhirnya mempengaruhi metabolisme serta pertumbuhan tanaman, baik secara vegetatif maupun generatif. Dari data dapat dilihat bahwa pada tiap pengamatan terjadi penambahan luas daun. Dari empat perlakuan yang dilakukan, pengamatan pertana perlakuan A (0) menunjukan luas daun paling besar diikuti perlakuan B (50), C (100), D (150). Pada pengamatan kedua terjadi sebalinya, perlakuan D (150) paling besar, diikuti dengan perlakuan C (100), D (50), dan A (0). Untuk angka dapat dilihat langsung pada Tabel Luas Daun Tanaman. Pada pengamatan yang ketiga luas daun terbesar pada perlakuan B (50), diikuti D (150), C (100), dan A (0). Perbedaan luas daun pada tiap perlakuan dan pada tiap pengamatan disebabkan pada pengamatan kedua dan ketiga daun banyak yang mulai menguning., ada juga dyang dimakan serangga dan ada pula yang rontok sehingga menyebabkan jumlah daun maupun luas permukaan daun yang lebih kecil dari perlakuan yang lainnya.
Pertumbuhan kacang hijau dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya air, pH, suhu, pupuk dan jarak tanam. Kandungan air tanah berpengaruh nyata terhadap kandungan N daun dan akar, kandungan klorofil dan kerapatan stomata daun. Sedangkan, kandungan P dan K pada daun serta akar dipengaruhi oleh faktor tunggal. Kandungan air tanah juga berpengaruh terhadap jumlah bunga, jumlah polong, jumlah biji, bobot biji, dan indeks panen. Air adalah salah satu komponen lingkungan fisik yang sangat berarti bagi kehidupan. Menurut Krammer (1980), tanaman dapat menyerap air dari tanah bila retensi oleh partikel-partikel tanah lebih kecil daripada daya serap tanaman. Jika kandungan air tanah rendah maka tanaman tidak dapat menyerap air kemudian akan layu. Namun, jika dalam keadaan jenuh walaupun retensi oleh partikel tanah tidak ada, air tidak dapat diserap oleh tanaman. Fungsi air bagi tanaman adalah membentuk karbohidrat, menghindari hidrasi protoplasma dan sebagai perantara proses translokasi mineral dan zat makanan. Menutupnya stomata dapat menurunkan laju fotosintesis, perluasan akar, penyerapan hara dan mempengaruhi jumlah hormon endogen yang berperan dalam proses fisiologi tanaman (Anon, 1984 dalam Fernandez dan Shanmugasundaram, 1988). Kebutuhan tanaman akan air dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti:
1.      Tipe da fase perkembangan tanaman
2.      Tanah dan kandungan airnya yang berbeda – beda dan
3.      Kondisi cuaca dari suatu daerah.
Tanaman kacang hijau membutuhkan air sebanyak 288 mm/musim atau evaporasi 3,6 mm/hari (Syamsiah dan Fagi, 1986). Kebutuhan air tanaman kacang hijau relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan tanaman legum lainnya. pH tanah yang ideal untuk pertumbuhan kacang hijau adalah lahan dengan pH tanah sekitar 5,8 serta mengandung banyak bahan organik. Selain pH, suhu juga mempengaruhi pertumbuhan kacang hijau. Suhu yang optimum berkisar antara    C, maka tanaman kacang hijau sesuai untuk dataran rendah hingga ketinggian mencapai  500 mdpl. Namun, tanaman ini cukup toleran terhadap cuaca yang kering serta dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang kisaran curah hujan sekitar 700 -900 mm / tahun.
Pupuk yang biasa digunakan adalah Urea (45 % N), SP-36 (36 % ), KCl ( 60 % O), dan pupuk majemuk (15-15-15). Suplai nitrogen di dalam tanah merupakan faktor yang sangat penting dalam kaitannya dengan pemeliharaan atau peningkatan kesuburan tanah. Peranan N terhadap pertumbuhan tanaman adalah jelas, karena senyawa organik di dalam tanaman pada umumnya mengandung N anatara lain asam amino, enzim dan bahan lainnya yang menyalurkan energi (Nyakpa, 1988). P mempengaruhi tinggi tanaman, hasil dan berat bahan kering, bobot biji dan memperbaiki kualitas hasil serta mempercepat masa kematangan. Sedangkan, pengaruhnya terhadap resistensi penyakit dapat dikatakan bahwa P meningkatkan daya resistensi terhadap serangan penyakit terutama cendawan (Nyakpa, 1988). Kalium di dalam tanaman dapat berfungsi untuk menguatkan batang tanaman sehingga tanaman tidak mudah rebah, meningkatkan hasil produksi dan memperbaiki kualitas hasil. Selanjutnya, kalium akan meningkatkan resistensi tanaman terhadap serangan penyakit, terutama oleh cendawan (Nyakpa, 1988).
Jarak tanam yang digunakan untuk mendukung pertumbuhan kacang hijau ada dua yaitu, jarak antar baris dan jarak dalam baris. Jarak antar baris berkisar antara 30-60 cm sedangkan jarak dalam baris 5-15 cm. Penanaman kacang hijau bisa dilakukan dengan pengolahan tanah atau tanpa pengolahan tanah. Hal itu dikarenakan pada tanah yang bertekstur berat pengolahan tanah akan meningkatkan aerasi tanah dan biji akan lebih mudah berkecambah. Tetapi, agar benih dapat berkecambah dengan baik, sebaiknya penanaman dilakukan saat tanah masih lembab atau saat sedang ada hujan.


VI. PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Dalam sistem monokultur, jarak tanam dan pemeliharaan tanaman sangat penting karena jarak tanam yang ideal akan memberikan lingkungan tumbuh yan baik bagi tanaman serta berguna dalam usaha peningkatan hasil.
2.      Pertumbuhan kacang hijau dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya air, pH, suhu, pupuk dan jarak tanam. Kandungan air tanah berpengaruh nyata terhadap kandungan N daun dan akar, kandungan klorofil dan kerapatan stomata daun.
3.      Dosis pupuk paling optimal untuk pemupukan kacang hijau di lahan Banguntapan adalah dengan dosis 50% anjuran, yaitu 87.5 gram per petak.
B.     Saran
  1. Dalam pembudidayaan hendaknya dilakukan pemiliharaan tanaman secara intensif agar panen maksimal. Hendaknya digunakan dosis pupuk phonska 50% anjuran untuk budidaya kacang hijau di lahan Banguntapan, yaitu 87.5 gram per petak ditambah pupuk kandang.


DAFTAR PUSTAKA
Andersen, C.R. 2006. Mung Bean-Vigna radiata. University of Arkansas, Arkansas, United States of America.


Atman. 2007. Teknologi budidaya kacang hijau (Vigna radiata L.) di lahan sawah. Jurnal Ilmiah Tambua VI : 89-95.


Balitkabi. 2005. Teknologi Produksi Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian.




Epetani. 2010. Teknologi Budidaya Kacang Hijau. <http://epetani.deptan.go.id/budidaya/teknologi-budidaya-kacang-hijau-1495>. Diakses 27 September 2011.


Hilman, Y., A. Kasno, dan N. Saleh. 2004. Kacang-kacangan dan umbi-umbian: Kontribusi terhadap ketahanan pangan dan perkembangan teknologinya. Dalam Makarim, et al. (penyunting). Inovasi Pertanian Tanaman Pangan. Puslitbangtan Bogor, 95-132.


Kassam A.H., and Kowal I.M. (1973). Productivity of crops in the Savanna and rainforest zones of Nigeria. Savanna 2 : 39-49.

LPTP. 2000. Budidaya Tanaman Kacang Hijau di Lahan Sawah. Tim Program Pertanian Berkelanjutan dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan. Surakarta.


Sunantara, I.M.M. 2000. Teknik produksi benih kacang hijau. No. Agdex: 142/35. No. Seri: 03/Tanaman/2000/September 2000. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar Bali.