"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

27 Juni 2012

PENYADAPAN TANAMAN KARET

Pesatnya pertumbuhan ekonomi dunia pada sepuluh tahun terakhir di kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin memberi dampak pertumbuhan permintaan karet alam yang cukup tinggi. Hasil studi REP (Rubber Eco Project) tahun 2004 meyatakan bahwa (Anwar, 2001) permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam.Indonesia diketahui memiliki lahan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan karet alam ini.
Di samping potensi pasarlateks yang besar, harga jual juga mendorong pemerintah dan swasta semakin gencar mengupayakan berbagai cara untuk peningkatan produksinya.Upaya peningkatan produksi ini dilakukan melalui berbaikan manajemen dan teknologi budidaya, yaitu termasuk di dalamnya cara-cara penyadapan.
Dengan pengelolaan yang memenuhi seluruh kriteria teknis produksi, maka estimasi produksi dapat dioptimalkan dengan mengacu pada standar produksi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat atau Balai Penelitian Perkebunan terkait.
    1. Tujuan
      1. Mengetahui cara-cara melakukan penyadapan tanaman karet

  1. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Syamsulbahri (1996), karet termasuk tanaman getah-getahan karena mempunyai jaringan tanaman yang banyak mengandung getah (lateks) dengan kadar antara 30-35% yang mengalir keluar apabila jaringan tanaman terlukai. Proses ini dinamakan penyadapan, yang oleh Siswoputranto (1981) dikatakan nerupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya produktivitas perkebunan karet.
Produksi lateks per satuan luas dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain klon karet yang digunakan, kesesuaian lahan dan agroklimatologi, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan, sertasistem dan manajemen sadap. Apabila factor-faktor tersebut dapat terpenuhi, maka tanaman karet pada umur 5 - 6 tahun telah memenuhi kriteria matang sadap. Kriteria matang sadap antara lain apabila keliling lilit batang pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah telah mencapai minimum 45 cm. Jika 60% dari populasi tanaman telah memenuhi kriteria tersebut, maka areal pertanaman sudah siap dipanen (Anwar, 2001).
Perkebunan karet rakyat dengan perkebunan milik Negara biasanya berbeda dari system dan manajemen sadapnya. Menurut Barlow (1970), penyadapan yang tidak benar banyak dijumpai pada perkebunan karet rakyat. Kerusakan bidang sadapyang sering terjadi antara lain disebabkan oleh cara penyadapan yang ceroboh dengan konsumsi kulit yang sangat boros dan frekuensi penyadapan yang tidak menentu. Intensitas penyadapan yang dilakukan petani umumnya tinggi, yaitu 150% atau lebih. Sedangkan sistem penyadapan modern di perkebunan-perkebunan milik negara (PNP/ PTP)menggunakan komponen penting yang dikemukakan oleh Spillane (1989),yaitu sistem penyadapan jangka panjang (long tapping system), sistem penyadapan mikro (micro tapping system) sebagai salah satu usaha untuk memperpendek masa nonproduktif (tanaman belum menghasilkan/ TBM), dan klasifikasi penyadap (Spillane, 1989).
Cara perbanyakan tanaman juga memberikan pengaruh yang cukup berarti dalam produksi lateks yang pada umumnya menggunakan teknik okulasi. Produksi tanaman hasil okulasi akan baik bila terdapat kesesuaian karakter agronomis antara batang atas dan batang bawah. Menurut Dijkman (1951), penurunan produktivitas akibat ketidaksesuaian batang atas dan batang bawah dapat mencapai 40%.

  1. METODOLOGI
Praktikum Budidaya Tanaman Tahunan mengenai ”Penyadapan Tanaman Karet” ini dilaksanakan pada tanggal 24April2012 di Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.Alat yang digunakan adalah pisau sadap, mangkuk, sigmat, cincin mangkuk, meteran, pisau mal, talang lateks, dan tali cincin. Sedangkan bahan yang digunakan adalah pohon karet matang sadap.
Cara kerja yang dilakukan pertama adalah memilih pohon karet yang siap untuk disadap atau memiliki kriteria matang sadap.Kemudian dibuat pola sadap yaitu a) ditentukan bukaan sadap 90-100 cm dari permukaan tanah, dan b) digambar bidang sadap dengan bentuk spiral dari kiri atas ke kanan bawah membentuk sudut 20-45º terhadap garis horisontal. Setelah itu, dilakukan penyadapan yaitu a) dengan membersihkankulit pohon, kemudian b) diiris dengan tebal irisan 1.5-2.0 mm, c) kedalaman irisan 1.0-1.5 mm, dan terakhir d) lateks ditampung dengan mangkuk sadap.


  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
Lateks alam merupakan polimer dari isoprene. Lateks ini berupa cairan (koloid) berwarna putih susu dan mengandung 20-30% butiran karet. Butiran lateks yang dilapisi protein, fosfolipid serta partikel-partikel lainnya menentukan kualitas lateks dan membuat cairan lateks menjadi bersifat lengket.
Lateks/ Karet alam banyak digunakan dalam industri terutama industri ban. Ban berkualitas tinggi tidak terbuat dari karet sintetis melainkan karet alam. Inilah yang menyebabkan teknologi bahan tidak dapat menggantikan eksistensi perkebunan karet.
Kualitas dan produksi karet ditentukan semenjak budidayanya.Penyadapan merupakan salah satu kegiatan pokok dalam usaha budidaya tanaman karet (Havea brasiliensis).Tujuannya adalah untuk mengambil getah karet (lateks) dari pembuluh lateks kulit batang melalui pelukaan.
Kesalahan dalam teknik penyadapan dapat menyebabkan kualitas dan hasil menjadi tidak optimal.Hal ini karena penyadapan memaksa tanaman mengorbankan pertumbuhannya untuk menyesuaikan kebutuhan karbohidrat metabolis, yang akhirnya mengakibatkan penghambatan pertumbuhan tanaman itu sendiri.Teknik penyadapan yang dapat mencapai produksi optimal menurut Pusat Penelitian Karet, Getas, seharusnya mengikuti sistem sadap normatif (dengan memperhatikan potensi tanaman).Komponen teknik penyadapan ini dapat dibagi tiga, yaitu kriteria tanaman siap sadap, alat-alat, dan cara penyadapan.
Kriteria tanaman yang telah matang sadap biasanya dimulai pada umur tanaman 5-6 tahun atau yang lilit batangnya sudah mencapai 45 cm pada ketinggian 100 m di atas permukaan tanah/ di atas pertautan okulasi (DPO), baik untuk tanaman yang berasal dari biji maupun dari okulasi. Tetapi untuk tanaman dari okulasi, PTP menerapkan batas ketinggian 130 m di atas tanah.Cepat lambatnya matang sadap dipengaruhi oleh sifat klon tanaman, kesuburan tanah dan kesuaian lingkungannya.Sedangkan kebun dikatakan matang sadap apabila tanaman yang matang sadap telah mencapai lebih dari 60 %.
Gambar 1. Kriteria matang sadap (a), alat ukur lilit batang (b) dan cara mengukur lilit batang (c) pada tanaman hasil okulasi (1) dan seedling (2) (Setyamidjaja, 1993)
Peralatan yang digunakan dalam penyadapan menentukan hasil penyadapan. Alat-alat yang biasa digunakan antara lain: pisau sadap atas, pisau sadap bawah, mangkuk penampung, cincin mangkuk, meteran gulung, mistar, sigmat/ quadri, pisau mal, mal sadap, talang lateks, dan tali cincin.
  1. Mal sadap. Mal sadap berfungsi membuat gambar sadapan yang menyangkut kemiringan sadapannya, biasanya digunakan sebagai pola rencana penyadapan untuk jangka waktu tertentu (biasanya 6 bulan). Mal sadap dibuat dari sepotong kayu dengan panjang 130cm yang dilengkapi plat seng selebar + 4cm dan panjangnya antara 50-60cm. Plat seng dengan kayu membentuk sudut 120º (Siregar, 1995).
  2. Pisau sadap bawah. Pisau sadap terbuat dari baja. Keseluruhan bagian dari pisau ini terbuat dari logam dan sudut mata pisau agak lancip sehingganya sangat cocok untuk penyadapan tanaman yang baru akan disadap (Hartanto, 2003e).
  3. Pisau sadap atas/ pisau sadap cekung. Produktivitas yang diperoleh jika penyadapan bidang atas menggunakan pisau sadap bawah tidak setinggi menggunakan pisau sadap cekung ini. Pisau sadap atas memiliki spesifikasi khusus, meliputi lengkungan besi, tebal besi, ketajaman ujung pisau, dan sudut yang dibentuk oleh lengkungan. Arah sadapan dari kanan bawah ke kiri atas. Jadi, bila penyadapan bidang sadap bawah menarik ke bawah, maka penyadapan bidang sadap atas menyorong ke atas. Untuk setiap kali penyadapan, kulit disayat 2, 75 mm. Bidang sadap atas tidak diperlukan pemulihan kulit (Hartanto, 2003a).
  4. Mangkuk sadap. Mangkok Sadap sangat berguna pada perkebunan karet untuk menampung hasil sadapan (Hartanto 2003c). Terbuat dari plastik elastis, tanah liat, atau alumunium dengan ukuran 500 ml dan 750 ml. Mangkok dipasang 10 cm di bawah talang (Siregar, 1995).
  5. Cincin mangkuk. Untuk menggantung mangguk sadap (PS, 2008) tidak boleh menggunakan paku atau bahan yang runcing karena akan merusak cambium, sehingga digunakan cincin mangkuk. Cincin mangkok terbuat dari kawat baja yang kuat dan lentur serta tahan lama. Produk ini digunakan untuk mengikat mangkok sadap ke batang pohon karet yang akan di sadap. Ada dua ukuran diameter cincin mangkok sadap sesuai dengan kapasitas mangkok sadap yang digunakan yaitu ukuran 500 ml dan 750 ml (Hartanto, 2003b).
  6. Mistar. Mistar bagian sisinya rata dan halus, di atasnya terdapat guratan-guratan ukuran, ada yang dalam satuan inchi, sentimeter dan ada pula yang gabungan inchi dan sentimeter/milimeter.Fungsi mistar baja dalam penyadapan adalah untuk mengukur lebar, mengukur tebal serta, memeriksa kerataan permukaan bidang sadap. Di samping itu mistar baja dapat dipergunakan untuk mengukur dan menentukan batas-batas ukuran juga sebagai pertolongan menarik garis pada waktu menggambar pada permukaan kulit batang karet.
  7. Meteran gulung. Alat ini dibuat dari pelat baja yang Iebih tipis dari pada mistar baja. Sifatnya lemas/lentur sehingga dapat digunakan untuk mengukur panjang dan keliling/ lilitbatang karet. Sepanjang mistar ini terdapat ukuran-ukuran satuan inchi dan metrik. Meteran gulung dapat digunakan dari 1 meter sampai 30 meter. Pada ujungnya terdapat kait sehingga mendapat ukuran yang tepat. Penggunaan alat ukur ini tidak untuk pengukuran yang presisi.
  8. Sigmat/ Quadri. Untuk mengetahui apakah lapisan cambium sudah terlalu dekat biasanya menggunakan sigmat atau quadri. Ujung yang tajam dari alat ini ditusukkan pada sisa kulit batang. Bila jarum telah masuk semuanya ke dalam sisa kulit batang dan masih terasa lunak maka kulit sisa yang menutupi cambium masih lebih dari 1,5 mm. bila terasa keras maka kulit sisanya sekitar 1,5 mm. pengukuran kedalaman irisan ini sangat besar pengaruhnya bagi kelanjutan produksi pohon karet (PS, 2008).
  9. Talang lateks/ Spout. Talang lateks digunakan untuk mengalirkan lateks ke dalam mangkuk (PS, 2008). Talang ini terbuat dari potongan seng, plat baja atau kaleng bekas. Ada berbagai jenis tergantung kepada ketebalannya (Hartanto, 2003d). lebar talang lateks 2,5 cm dan panjangnya 8-10 cm. Pemasangannya dengan cara menancapkan 5 cm dari titik ujung terendah irisan sadapan dan tidak terlalu dalam (PS, 2008).
  10. Tali cincin. Tali cincin digunakan untuk mencantolkan cincin mangkuk. Biasanya tali cincin terbuat dari kawat atau ijuk. Peletakannya disesuaikan dengan cincin mangkuk dan jangan sampai terlalu jauh dari cincin mangkuk (PS, 2008)
Disamping peralatan konvensional tersebut di atas, Wibowo (2011) telah mengembangkan pisau sadap elektrik yang mampu menyeragamkan kedalaman irisan dan konsumsi kulit batang. Pisau sadap elektrik dapat mengontrol konsumsi kulit pada kedalaman sekitar1.8-2.1 mm. Kualitas hasil pemotongan kulit pohon dengan pisau sadap elektrik memberikan bentuk sadapan ½ spiral lebih rata. Sistem pengendalian kedalaman irisan pada pisau sadap elektrik ini mempengaruhi produksi lateks, namun memakan waktu lebih lama, yaitu 14-22 detik, sedangkan penyadapan dengan pisau biasa hanya 6-8 detik.
Cara penyadapan karet harus memperhatikan potensi tanamannya jangka panjang. Penyadapan yang baik dapat dilakukan selama 25-35 tahun.
Penyadapan dilakukan pada pagi hari antara pukul 05.00-06.00, sedangkan pengumpulan lateks dilaksanakan antara pukul 08.00--10.00. Sebelum penyadapan, kulit karet dibersihkan terlebih dahulu agar tidak terjadi pengotoran lateks. Pengotoran lateks dapat menyebabkan pra-koagulasi sehingga kualitas lateks menurun. Kemudian dibuat pola dengan terlebih dahulu mengukur tinggi bukaan sadap. Posisi pembuluh lateks pada umumnya tidak sejajar dengan batang tanaman tetapi agak miring dari kanan atas ke kiri bawah memutar berkebalikan arah jarum jam, sehingga agar pembuluh yang terpotong maksimum jumlahnya, arah irisan sadap harus dari kiri atas ke kanan bawah tegak lurus terhadap pembuluh lateks. Saat pembuatan pola, sudut kemiringan irisan sadap harus diperhatikan, karena ini berpengaruh terhadap produksi. Sudut kemiringan yang paling baik berkisar antara 30-40 derajat terhadap bidang datar untuk bidang sadap bawah dan 45 derajat pada bidang sadap atas.
Setelah bidang sadap selesai digambar kemudian talang dan mangkuk sadap dipasang. Pemasangannya diletakkan di bawah ujung irisan sadap bagian bawah. Mangkuk sadap dipasang pada jarak 15 cm - 20 cm di bawah talang sadap. Mangkuk sadap diletakkan di atas cincin mangkuk yang diikat dengan tali cincin pada pohon.
Pengirisan kulit dilakukan dengan pisau sadap. Tebal irisan sadap yang dianjurkan 1,5-2 mm sedalam kurang lebih 1,5 mm dari lapisan cambium atau tidak menyentuh kambium. Kedalaman penyadapan ini diukur dengan menggunakan alas sigmat atau paku yang dipipihkan. Alat sigmat harganya mahal, sehingga untuk petani dianjurkan menggunakan paku yang dipipihkan. Ujung paku yang dipipihkan mempunyai lekukan yang dalamnya pada satu sisi 1 mm dan pada sisi lainnya 1,5 mm.
Hasil sadapan (lateks) yang telah berada di mangkok sadap kemudian dituangkan ke dalam ember aluminium bersih bertutup. Kontak dengan udara juga dapat menyebabkan lateks berkoagulasi (menggumpal). Pada perkebunan besar, lateks dalam ember dikumpulkan ke dalam tangki dan dibawa ke pengolahan dengan truk.

  1. KESIMPULAN
      1. Kualitas dan produksi karet ditentukan semenjak budidayanya.Penyadapan merupakan salah satu kegiatan pokok dalam usaha budidaya tanaman karet (Havea brasiliensis). Kesalahan dalam teknik penyadapan dapat menyebabkan kualitas dan hasil menjadi tidak optimal. Komponen teknik penyadapan ini dapat dibagi tiga, yaitu kriteria tanaman siap sadap, alat-alat, dan cara penyadapan.
      2. Kriteria tanaman yang telah matang sadap biasanya dimulai pada umur tanaman 5-6 tahun atau yang lilit batangnya sudah mencapai 45 cm pada ketinggian 100 m di atas permukaan tanah/ di atas pertautan okulasi (DPO), baik untuk tanaman yang berasal dari biji maupun dari okulasi. Sedangkan kebun dikatakan matang sadap apabila tanaman yang matang sadap telah mencapai lebih dari 60 %.
      3. Peralatan yang digunakan dalam penyadapan menentukan hasil penyadapan. Alat-alat yang biasa digunakan antara lain: pisau sadap atas, pisau sadap bawah, mangkuk penampung, cincin mangkuk, meteran gulung, mistar, sigmat/ quadri, pisau mal, mal sadap, talang lateks, dan tali cincin.
      4. Cara penyadapan karet harus memperhatikan potensi tanamannya jangka panjang. Penyadapan yang baik dapat dilakukan selama 25-35 tahun.




















DAFTAR PUSTAKA


Anwar, C. 2001.Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet, Medan.

Barlow, C. 1970.Rubber smallholders, situation rehabilitation. Buletin Perkebunan Bogor. Seri Doc Tjer No 12.

Dijkman, M.J. 1951. Hevea thirty years of research in the Far East.University of Miami Press, Miami.

Hartanto, T. 2003a. Pisau Sadap Atas. < http://antakowisena.indonetwork.co.id/3183151/pisau-sadap-atas.htm>. Diakses 1 Mei 2012.

_______. 2003b. Cincin Mangkok Sadap. < http://antakowisena.indonetwork.co.id/2531232/cincin-mangkok-sadap.htm>. Diakses 1 Mei 2012.

_______. 2003c. Mangkok Sadap. < http://antakowisena.indonetwork.co.id/40170/mangkok-sadap.htm>. Diakses 1 Mei 2012.

_______. 2003d. Talang Sadap. < http://antakowisena.indonetwork.co.id/40173/talang-sadap.htm>. Diakses 1 Mei 2012.

_______. 2003e. Pisau Sadap GIM-777. < http://antakowisena.indonetwork.co.id/2531230/pisau-sadap-gim-777.htm>. Diakses 1 Mei 2012.

PS, Tim Penulis. 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya, Jakarta.

Setyamidjaja, D. 1993. Karet. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Siregar, T. H. S. 1995. Teknik Penyadapan Karet. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Siswoputranto, P. S. 1981.Perkembangan Karet Internasional. Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional, Jakarta.

Spillane, J. J. 1989.Komoditi Karet Peranannya dalam Perekonomian Indonesia. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Syamsulbahri. 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Wibowo, S. A. 2011. Desain dan Kinerja Pisau Sadap Elektrik untuk Tanaman Karet (Havea brasiliensis). Institut Pertanian Bogor, Bogor.