"salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat"

27 Juni 2012

Budidaya Tanaman Pala

Pala (Myristica fragrans Houtt) adalah anggota dari genus Myristica yang merupakan tanaman rempah tropik asli Indonesia dari kepulauan Banda dan Maluku. Rumphius (1743) menyatakan bahwa dunia mengenal Maluku dari hasil pala dan cengkeh.
Dahulu, pala merupakan salah satu tanaman rempah yang menjadi rebutan bangsa-bangsa yang datang ke Indonesia seperti Portugis pada tahun 1511. Biji dan kulitnya dibawa ke Eropa dan dijual dengan harga yang sangat mahal. Harga yang tinggi ini merupakan perangsang bagi bangsa-bangsa lain untuk datang ke Indonesia.
Pada zaman V.O.C, sistem tataniaga pala dan cengkeh telah tertata dengan baik, sehingga pala bisa memberikan kontribusi terhadap pendapatan yang signifikan bagi negeri Belanda. Kemudian pada tahun 1748 tanaman ini dikembangkan ke daerah Minahasa dan Kepulauan Sanger Talaud, Sumatra Barat dan Bengkulu, kemudian menyusul di Jawa, Aceh dan Lampung. Pada jaman kekuasaan Inggris, tanaman ini disebarkan pada beberapa daerah jajahan tetapi tidak berhasil baik, di Malaya dikalahkan oleh karet, di pulau kecil India Barat (Grenada) dapat berhasil baik sehingga daerah ini menjadi saingan Indonesia dalam ekspor pala di dunia.
Hingga saat ini, pala tetap menjadi primadona karena nilai ekonominya. Nilai ekonomi bahan baku kering pala di pasaran saat ini sekitar Rp52.500,00/kg sedangkan minyak atsirinya (Nutmeg Oil) Rp570.000/kg (Rusli, 2010). Dari satu pohon pala yang berumur sekitar 25-50 tahun akan menghasilkan 160 kg buah pala, yang terdiri dari daging buah, biji pala (22,5 kg) dan fuli (3 kg). Menurut Marzuki (2007) bila dari minyak buah pala diproses kimia lebih lanjut, akan dihasilkan lemak/mentega (8,05%), 16 komponen terpenoid (73,91%) dan 8 komponen aromatic (18,04%). Komponen utama dari senyawa aromatik tersebut adalah Miristin.
Seluruh bagian tanaman pala dapat bernilai ekonomi. Sebagaimana tanaman rempah lainnya, selain sebagai bumbu masak pala juga dapat menghasilkan minyak atsiri dan lemak dari biji dan fulinya. Minyak atsiri tersebut merupakan flavor dalam industri rokok, sabun, parfum, obat-obatan dan makanan. Manfaat lain tanaman pala adalah sebagai berikut:
  1. Kulit batang dan daun. Batang/kayu pohon pala yang disebut dengan “kino” dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri dalam konsentrasi yang sedikit.
  2. Fuli. Fuli atau kulit biji adalah selaput jala berbentuk seperti anyaman yang menutup biji buah pala, atau disebut juga “bunga pala”. Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak dijual di dalam negeri.
  3. Biji pala. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, seperti obat muntah-muntah.
  4. Daging buah pala. Daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, kristal daging buah pala.
Bentuk komoditas pala yang diekspor oleh Indonesia adalah dalam bentuk biji, fuli dan pala glondong. Oleoresin pala umumnya diproduksi oleh negara-negara pengimpor biji pala seperti singapura, Amerika serikat, dan negara-negara di Eropa Barat. Ekspor komoditas pala dalam bentuk oleoresin memang sangat menguntungkan oleh karena handiling-cost-nya rendah, mudah dilakukan standarisasi mutu karena dihasilkan oleh industri dan daya simpannya lebih lama. Pengolahan lebih lanjut dari biji dan fuli pala menjadi oleoresin ini di daam negeri juga akan meningaktkan nilai tambah produk dan memperluas lapangan kerja.
Lebih dari 60 % kebutuhan pala dunia diekspor dari Indonesia. Akan tetapi, secara keseluruhan mutu pala Indonesia masih kalah dibanding mutu pala dari negara lainnya. Rendahnya mutu pala tersebut disebabkan oleh banyak faktor antara lain tanaman yang sedang berproduksi makin hari makin tua, pemeliharaan praktis jarang dilakukan, sebagian tanaman tua/ tidak produktif dan belum mengguanakan bibit unggul, kelembagaan petani lemah dan mutu produksi satuan petani masih rendah. Untuk dapat bersiang di pasar dunia, sangat dibutuhkan peningakatan produkitivitas dan mutu produk yang memenuhi standar pasar internasional.
Pertanian pala baik di masyarakat maupun perusahaan perkebunan, merupakan hasil perbanyakan asal biji (generatif) sehingga masalah sex ratio tidak dapat diatur dari awal pertanaman dan bibit yang digunakan adalah asalan, dengan produktivitas rendah yaitu kurang dari 1500–3000 butir/pohon/tahun (Hadad, 1992). Pemakaian bibit unggul pala klonal (vegetatif) diperlukan pada program pengembangan pala ke depan sehingga masalah sex ratio dapat teratasi dan produksi serta mutu dapat lebih meningkat.
Berdasarkan kondisi pala saat ini, Pemerintah seharusnya segera melakukan perbaikan dengan mengacu teknologi budidaya yang telah tersedia. Teknologi yang tersedia dari hasil penelitian, antara lain teknologi perbanyakan bibit pala unggul klonal (vegetatif), pengolahan biji pala dan fuli menjadi minyak atsiri, teknologi pengolahan minyak atsiri menjadi diversifikasi produk ikutan dan teknologi pengolahan daging buah pala menjadi berbagai macam makanan ringan.
Strategi pengembangan pala ke depan menurut Susanto dan Bustaman (2006) dapat dilakukan melalui pendekatan ekstensifikasi, intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan dengan bibit unggul klonal. Pengembangan pala selain pada areal bukaan baru, juga dilakukan pada existing perkebunan kelapa sebagai tanaman sela seperti di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Damer, Romang dan Tepa), Maluku Tenggara, Maluku Tengah, Buru, Aru (P.Wokam), Seram Bagian Barat, dan Seram Bagian Timur.

  1. PERSIAPAN LAHAN
Tanaman pala membutuhkan lahan pada ketinggian 500-700 m dpl yang beriklim panas (18-340 C) dengan curah hujan tinggi (2.000-3.000 mm/th) dan merata sepanjang tahun (Rusli, 2010). Namun, meski membutuhkan curah hujan tinggi pala ini dapat bertahan dalam musim kering selama beberapa bulan.
Untuk kriteria utama jenis tanah yang dibutuhkan adalah yang gembur, subur, dan mempunyai drainase yang baik seperti tanah vulkanis. Pertumbuhan tanaman optimal diperoleh pada tanah bertekstur pasir sampai lempung dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Adapun pH tanah yang cocok untuk tanaman pala adalah 5,5-6,5.
Jika diperlukan pembukaan lahan maka sebaiknya pembabatan semak belukar dan penebangan pohon-pohon dilakukan pada musim kemarau untuk mencegah semak belukar tumbuh kembali dengan cepat pada musim hujan.
Tanaman ini peka terhadap genangan air, sehingga diperlukan adanya sistem drainase yang baik di lahan. Untuk itu, sebelum tanam perlu dilakukan pengolahan tanah dengan penggemburan, pembersihan akar dan sisa-sisa tanaman, serta pembuatan teras-terus untuk mencegah terjadinya erosi pada areal yang miring.

  1. PERSIAPAN BAHAN TANAM
Dalam mempersiapkan bahan tanam, aspek yang perlu diperhatikan adalah pemilihan spesies dan varietas yang sesuai, serta pemilihan klon yang unggul dan bermutu. Ada sekitar 85 spesies pala yang dapat dipilih sebagai bahan tanam. Di antara spesies tersebut yang banyak dibudidayakan dan bernilai ekonomi adalah Myristica fragrans Houtt., Myristica argentea Ware., Myristica fattua Houtt., dan Myristica sucedona BL.
Setelah ditentukan jenis yang akan dibudidayakan, maka kemudian perbanyakan dapat dilakukan dengan cara generatif ataupun vegetatif. Perbanyakan generatif yaitu dengan biji, sedangkan secara vegetatif dapat melalui cangkok maupun okulasi.
Perbanyakan tanaman dengan biji tampaknya kurang efektif karena meskipun ada 5% yang berjenis kelamin ganda, namun sejatinya tanaman pala memiliki jenis kelamin tunggal (monoecious). Pembuahan biasanya menghasilkan 40% biji calon pohon jantan yang tidak dapat berbuah. Bila harus dengan cara ini, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memilih pohon induk yang baik dan dekat dengan pohon jantan, kemudian buah yang telah masak penuh (besar, bulat dan simetris) paling lambat 24 jam setelah pemetikan langsung disemaikan. Selain itu jika tanaman sudah terlanjur dewasa, bisa juga dilakukan penyambungan (grafting) tanaman jantan dengan tanaman betina untuk menghasilkan tanaman yang mampu berproduksi.
Berdasarkan Surat keputusan Direktur Jenderal Perkebunan KB.010/42/SK/DJ. BUN/9/1984, telah ditetapkan dan dipilih pohon induk yang dapat dipergunakan sebagai sumber benih yang tersebar di 4 propinsi, yaitu: Sumatra Barat, Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Maluku. Biji-biji dari pohon induk terpilih tersebut harus diseleksi, yaitu dipilih yang agak bulat dan simetris, kulit biji berwarna coklat kehitam-hitaman dan mengkilat, serta tidak terserang oleh hama maupun penyakit.
Biji-biji pala yang akan ditanam di lahan harus terlebih dahulu dikecambahkan di persemaian berupa tanah olah dan pupuk kandang dengan bedengan. Bedengan dibuat membujur utara-selatan, dan di sekelilingnya dibuka selokan kecil yang berfungsi sebagai saluran drainase. Bedengan tersebut diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/ jerami setinggi 2 m (timur) dan 1 m (barat), agar persemaian hanya terkena sinar matahari pada pagi sampai menjelang siang. Jarak persemaian antar biji adalah 15 x 15 cm dengan posisi garis putih pada kulit biji terletak di bawah. Pemeliharaan persemaian terutama dengan menjaga tanah bedengan agar tetap basah dan bersih dari gulma.
Setelah berkecambah, maka bibit dapat dipindahkan ke dalam polibag berisi media tanah gembur yang subur yang dicampur dengan pupuk kandang. Polibag yang sudah berisi bibit tanaman harus diletakkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari. Pemeliharaan dalam polibag adalah menjaga agar media tumbuhnya tetap basah, tidak tergenang, dan bersih dari gulma. Agar tidak tergenang, bagian bawah polibag diberi lubang untuk jalan keluar air siraman/ air hujan. Pemupukan dengan TSP dan urea masing-masing sekitar 1 gram pada awal musim hujan dan 1 gram pada akhir musim hujan. Setelah bibit tanaman mempunyai 3-5 batang cabang, maka bibit ini dapat dipindahkan ke lapangan.
Perbanyakan secara klonal (vegetatif) lebih diutamakan karena lebih mudah, cepat, dan tanaman baru pun memiliki sifat-sifat seperti induknya sehingga keseragaman tanaman dapat dikendalikan. Perbanyakan secara klonal dapat dilakukan dengan cangkok ataupun okulasi (tempelan).
Untuk perbanyakan dengan cangkok sebagaimana cara pencangkokan biasa, hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: dalam memilih cabang yang akan dicangkok harus berasal dari pohon induk yang pertumbuhannya baik, rimbun, bebas dari hama dan penyakit, serta produktif; umur pohon induk berkisar antara 12 -15 th; cabang yang akan dicangkok sudah berkayu tetapi tidak terlalu tua atau terlalu muda; waktu pencangkokan pada musim hujan atau pada musim kemarau dengan penyiraman teratur; jika pencangkokan dengan pembalut plastik maka bagian atas dan bawah harus biberi lubang kecil untuk saluran penyiraman dan drainase. Cangkokan siap dipindah tanam setelah satu bulan atau jika akar yang muncul telah berubah warna menjadi cokelat tua.
Cara okulasi atau penempelan atau budding dapat mengurangi persentase pohon jantan yang muncul. Yaitu dengan menggunakan entrys (mata tunas) dari cabang pohon betina yang berproduksi tinggi. Yang perlu diperhatikan untuk melakukan okulasi yaitu: besar calon batang atas dan batang bawah (under stump) tidak jauh berbeda; umur batang bawah minimal 1 tahun; entrys diambil dari cabang yang lurus dari pohon yang telah berproduksi; satu atau dua minggu sebelum pengambilan cabang entrys, sebagian daunnya dipangkas untuk merangsang pertumbuhan mata tunas; pisau okulasi juga harus tajam dan bersih.

  1. PENANAMAN
Penanaman bibit pala dilakukan pada awal musim hujan untuk mencegah agar bibit tidak mati kekeringan.
Bibit tanaman yang berasal dari biji dan sudah mempunyai 3-5 cabang biasanya sudah mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sehingga pertumbuhannya dapat berlangsung baik. Penanaman dengan biji dilakukan dengan melepas polibag kemudian memasukkan bibit ke dalam lubang tanam (permukaan tanah pada lubang tanam dibuat sedikit lebih rendah dari permukaan lahan kebun). Setelah itu, lubang disiram dengan air supaya media tumbuh mejadi basah.
Penanaman bibit pala dari okulasi dapat dilakukan seperti menanam bibit pala yang berasal dari biji. Sedangkan untuk bibit pala dari cangkokan, sebelum ditanam terlebih dulu dilakukan perompesan daun untuk mencegah penguapan yang terlalu cepat. Lubang tanam perlu dibuat lebih dalam agar setelah dewasa tanaman tidak roboh karena sistem perakaran yang tidak memiliki akar tunggang. Setelah bibit ditanam, lubang tanam harus segera disiram.
Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm (untuk jenis tanah ringan) dan ukuran 80 x 80 x 80 cm (untuk jenis tanah lempung) perlu disiapkan satu bulan sebelum bibit ditanam agar tanah dalam lubang menjadi dayung (tidak asam), terutama jika pembuatannya pada musim hujan. Dalam menggali lubang tanam, lapisan tanah bagian atas harus dipisahkan dengan lapisan tanah bagian bawah, sebab kedua lapisan tanah ini mengandung unsur berbeda. Setelah beberapa waktu, tanah galian bawah dimasukkan lebih dahulu kemudian menyusul tanah galian bagian atas yang dicampur dengan pupuk kandang secukupnya. Jarak tanaman yang baik pada lahan datar adalah 9 x 10 m, sedangkan pada lahan bergelombang adalah 9 x 9 m.

  1. PENGELOLAAN TANAMAN
Pengelolaan tanaman saat belum menghasilkan (TBM) dan saat telah menghasilkan (TM) meliputi penanaman pohon pelindung sebelum pindah tanam; penyulaman jika bibit yang telah dipindah tanam ternyata mati atau abnormal; penyiangan mulai 60-90 HST (hari setelah tanam), pemupukan dengan pupuk organik dan anorganik secara melingkar; serta pengendalian organisme pengganggu terutama gulma, yaitu dengan penggunaan herbisida sesuai dosis anjuran.
Mengenai pohon pelindung, seumur hidupnya tanaman pala membutuhkan pohon pelindung sebagai pemecah angin yang dapat mengganggu penyerbukan, dan juga sebagai pelindung dari sinar matahari yang berlebihan saat tanaman masih muda. Penanaman pelindung di awal tanam penting untuk mencegah pertumbuhan abnormal, yaitu pertumbuhan memanjang ke atas dan tertundanya fase generatif. Setelah berumur 4-5 tahun, tanaman pala sudah membutuhkan sinar matahari lebih banyak untuk dapat berproduksi sehingga penjarangan pohon pelindung harus dilakukan. Penjarangan ini juga penting untuk mencegah terjadinya persaingan di dalam menyerap unsur hara antara tanaman pala dengan tanaman pelindung. Pohon pelindung yang baik adalah pohon yang daunnya tidak terlalu rimbun serta tahan terhadap hempasan angin seperti pohon kelapa, duku, rambutan dan jenis pohon buah-buahan lainnya.
Sedangkan mengenai organisme pengganggu selain gulma yang sering menyerang tanaman pala adalah penggerek batang (Batocera hercules) penyebab lubang dan bubuk batang, kumbang penggerek buah (Areoceum foriculatus), rayap penyebab bercak batang dan akar, dan cendawan Coryneum myristicae penyebab penyakit pecah buah dan bercak buah. Pengendalian penggerek batang dengan pestisida sistemik, penggerek buah dengan menyegerakan pengeringan buah pasca panen, rayap dengan penyemprotan pestisida ke saluran-saluran sarang melalui batang dan akar, sedangkan cendawan dicegah dengan membuat saluran drainase yang baik atau melakukan pengasapan belerang di bawah pohon serta penyemprotan fungisida jika telah terserang cukup berat.

  1. PANEN DAN PASCA PANEN
Tanaman pala dapat dipanen mulai umur 3-5 tahun hingga umur 60-70 tahun dan produksinya optimal pada umur 10-25 tahun (tergantung jenisnya). Periode panennya dua kali dalam setahun karena masa pematangan buahnya adalah selama ±180 HSA (hari setelah anthesis).
Untuk menghasilkan minyak atsiri, buah dipanen setelah merekah berwarna cokelat tertutup fuli. Setelah dipanen, daging buah dengan bijinya dipisahkan dan diambil daging buahnya. Daging buah tersebut kemudian dikeringanginkan dengan menjaga suhunya tidak lebih dari 45 derajat celcius agar lemaknya tidak mencair. Minyak lemak pala (fixed oil) sebanyak 25 - 40 % dipisahkan terlebih dahulu sebelum disuling dengan cara menggiling dan memeras biji dengan grinder. Setelah biji pala digiling kemudian disuling dalam ketel suling selama ±10-30 jam. Rendemen minyak yang diperoleh berkisar antara 7-16 %. Minyak pala ini biasanya diekspor ke Singapura, Perancis, Inggris, Nederland dan Amerika Serikat.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. <http://www.bakorluh-maluku.com/ /2011/Teknik%20Budidaya%20Pala.pdf.>. Diakses pada tanggal 18 Maret 2012.

Anonim. 2009. <http://ditjenbun.deptan.go.id/pedoman-praktis-budidaya-pala->. Diakses pada tanggal 18 Maret 2012.

Marks, S. and Pomeroy J. 1995. International trade in nutmeg and mace: issues andptions for Indonesia. Bull. Indo Economic Studies 3:103-118.

Marzuki, I. 2007. Karakteristik produksi, proksimat atsiri pala Banda. Makalah Pada Seminar Nasional Akselerasi Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Ketahanan Pangan di Wilayah Kepulauan. BPTP Maluku 29-30 Oktober 2007.

Ojechi, B.O., Souzey J.A., and Akpomedaye D.E. 1998. Microbial stability of mango (Mangifera indica L.) juice preserved by combined application of mild heat and extracts of two tropical spices. J. Food Protection 6:725-727.

Purseglove, J.W., E.G. Brown, S.L. Green, and S.R.J. Robbins. 1995. Spices. Longmans, New York.

Rusli, Meika Syahbana. 2010. Sukses Memproduksi Minyak Atsiri. PT Agromedia Pustaka, Jakarta.

Stecchini, M.L., Sarais I., and Giavedoni P. 1993. Effect of essential oils on Aeromonas hydrophyla in a culture medium and in cooked pork. J. Food Protection 5: 406- 409.

Sunanto, Hatta. Budidaya Pala Komoditas Ekspor. Kanisius, Yogyakarta.

Susanto, A.N. dan S. Bustaman. 2006. Data dan Informasi Sumberdaya Lahan Untuk Mendukung Pengembangan Agribisnis Di Wilayah Kepulauan Provinsi Maluku. Penerbit BPTP Maluku.