DUNIA hari ini sedang dipaksa menelan sandiwara hambar dengan naskah yang didekte langsung dari Washington. Tuntutan terbaru Gedung Putih agar Iran memberikan respons “terpadu” (unified) terhadap proposal perdamaian bukanlah upaya tulus, melainkan taktik moving the goalposts yang licik. Dengan dalih perundingan, Amerika Serikat sebenarnya sedang membangun "pintu masuk" untuk mempreteli kedaulatan Iran selapis demi selapis—sebuah proses penelanjangan paksa mulai dari stok uranium hingga kontrol rudal strategis—sebagai syarat mutlak sebelum proses diplomatik bisa bergerak lebih jauh.
Modus "perampokan yang dilegalisasi" ini bukanlah barang baru. Dunia sudah melihat bagaimana kasus Venezuela menjadi preseden berbahaya. Melalui instrumen sanksi, Washington dan sekutunya secara efektif merampas kekayaan negara lain; mulai dari penyitaan aset minyak Citgo senilai miliaran dolar di pengadilan AS hingga penahanan cadangan emas Venezuela di Bank of England yang tak kunjung dikembalikan. Apa yang terjadi di Venezuela adalah pesan keras kepada dunia: aset kedaulatan Anda hanya aman selama Anda patuh pada keinginan hegemon. Jika pola "perampokan legal" ini terus dibiarkan meluas dari Amerika Latin ke Timur Tengah, kita sebenarnya sedang menyaksikan pemicu Perang Dunia III yang nyata. Ketegangan yang melibatkan kekuatan besar di dua kutub ini hanyalah menunggu satu percikan untuk meledakkan stabilitas global secara total.
Kini, pola yang sama diterapkan pada Iran. Penuntasan "urusan" dengan Teheran hanyalah prasyarat agar tidak ada lagi kekuatan lokal yang mampu merintangi proyek “Greater Israel” atau Israel Raya. Visi ini adalah peta jalan kolonialisme modern untuk mendominasi wilayah dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Irak dan Suriah. Targetnya nyata: aneksasi Palestina, pendudukan Lebanon Selatan, dataran tinggi Golan, hingga ancaman terhadap kedaulatan Yordania dan sebagian Arab Saudi. Melalui strategi "Balkanisasi"—memecah negara Arab menjadi entitas kecil yang lemah—mereka berupaya memastikan ambisi penguasaan tunggal absolut atas dunia dan sumber dayanya tetap tak tergoyahkan.
Namun, dunia mulai jengah. Muncul gelombang perlawanan tanpa mesiu melalui tatanan dunia baru atau New World Order yang multipolar. Gerakan dedolarisasi oleh blok BRICS hingga munculnya Koalisi 40 Negara (pimpinan Inggris dan Prancis) yang mulai mengambil inisiatif keamanan mandiri di Selat Hormuz tanpa keterlibatan AS, adalah bukti bahwa monopoli kekuasaan sedang menuju senja kalanya. Inilah manifestasi dari kemerdekaan berserikat secara internasional; sebuah tatanan di mana setiap negara memiliki hak berdaulat yang sama untuk menentukan nasibnya tanpa diintervensi oleh "polisi dunia".
Di tengah benturan global yang sedang menuju titik didih Perang Dunia III ini, di mana posisi Indonesia? Sungguh ironis melihat Indonesia, dengan segala potensi strategisnya, justru sering tampil sebagai pemain "payah" di meja negosiasi. Kita sering kali dibuat heran melihat rendahnya kapasitas intelektual serta nyali para pemimpin dalam membaca catur geopolitik. Seolah-olah mereka tidak dibekali dengan peta SWOT yang memadai demi kompromi politik jangka pendek. Kita diajarkan sejak level bisnis tinggi bahwa ketergantungan adalah bunuh diri, namun para pemimpin kita justru bertindak seolah mengekor pada kekuatan tunggal adalah sebuah prestasi.
Mengelola negara seharusnya dilakukan layaknya mengelola korporasi bisnis raksasa: harus mandiri, ofensif secara strategis, dan sepenuhnya berorientasi pada kemakmuran rakyatnya sendiri. Benturan global saat ini adalah filter alami bagi otak dan nyali. Pilihannya cuma satu: bersatu membela kedaulatan kolektif melalui tatanan baru yang adil atau membiarkan satu demi satu negara dicaplok oleh ambisi penguasaan tunggal.
Dunia tidak butuh perampok yang menyamar sebagai penjaga perdamaian. Dan bangsa ini tidak butuh pemimpin yang hanya piawai bersilat lidah namun rendah dalam kualitas strategi dan nyali untuk menjaga kedaulatan di bawah kaki sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik.