JAKARTA – Pasar modal hari ini (13/05/2026) dihantam badai rebalancing. Pengumuman terbaru indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) edisi Mei 2026 memicu kejutan besar dengan mendepak 101 saham raksasa dari kategori MSCI Global Standard Index.
IHSG Tersungkur
Enam saham 'Sultan' resmi dicoret, yaitu: AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Keputusan ini memicu kekhawatiran arus modal keluar (outflow) investor asing yang diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni Rp42 triliun (sekitar US$1,6 - 2 miliar).
Merespons kabar ini, IHSG langsung tersungkur 1,43% ke level 6.807 pada sesi perdagangan hari ini. Tekanan jual masif memaksa manajer investasi global melepas kepemilikan mereka sebelum tanggal efektif 29 Mei 2026.
Bursa Global Memerah
Indonesia tidak sendirian dalam "pembersihan" ini. MSCI melakukan perombakan besar di seluruh dunia dengan mencoret total 101 saham secara global. Dampaknya, bursa-bursa utama di Asia pun ikut tertekan:
Nikkei (Jepang) & KOSPI (Korea Selatan): Terkoreksi tajam setelah beberapa emiten besar mereka (seperti Doosan Bobcat dan SG Holdings) juga didepak dari indeks.
Hang Seng (Hong Kong): Ikut terseret sentimen negatif akibat pencoretan masif saham-saham sektor properti dan teknologi China.
Pasar Emerging: Investor cenderung menarik dana dari pasar berkembang yang dianggap berisiko tinggi, memicu aksi jual serentak di kawasan Asia Pasifik.
Daftar Saham yang Dicoret dari MSCI (Mei 2026)
- Indonesia: AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT
- Jepang: Kobe Bussan, Shimizu Corp, SG Holdings
- Korea Selatan: Coway, Doosan Bobcat, LG H&H
- Taiwan: Cheng Shin Rubber, Eclat Textile
- Amerika Serikat: Devon Energy, Coterra Energy (Total 15 Saham)
Emas Jadi Rebutan
Di tengah turbulensi pasar saham, harga emas justru kian berkilau. Emas kembali membuktikan statusnya sebagai safe haven (aset aman). Likuiditas yang keluar dari pasar saham dunia kini mengalir deras ke emas, mendorong harganya mendekati level tertinggi baru di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pencoretan masal menciptakan lubang kepercayaan jangka pendek bagi investor asing. Secara historis, ketika bursa global gojang-ganjing, emas adalah pelabuhan utama untuk mengamankan nilai aset.
Para investor kini disarankan waspada terhadap volatilitas tinggi hingga akhir Mei. Diversifikasi ke emas dipandang sebagai langkah mitigasi paling logis di tengah eksodus dana asing global yang tengah terjadi.