Hari ini, nilai tukar Rupiah resmi menembus level Rp18.000,00 per Dolar AS. Bagi sebagian masyarakat, angka ini luar biasa mengerikan. Atmosfer di luar sana mulai memanas, emosi mudah tersulut, meme bertebaran, dan mulai ada gelombang provokasi di media sosial yang mencoba menggulirkan narasi mosi tidak percaya terhadap arah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Jujur, bagi saya pribadi, angka Rp18.000,00 ini sama sekali tidak mengejutkan. Ini adalah risiko yang sudah bisa diduga sejak lama. Kita tentu ingat bagaimana mantan Menkeu Sri Mulyani dulu pernah menyebutkan proyeksi angka psikologis Rp20.000,00 pada 1 April 2020, jauh sebelum Prabowo memenangkan pemilu.
Namun, jika kita jeli melihat rekam jejak krisis historis, angka-angka menakutkan seperti itu sering kali terasa bukan sekadar prediksi ilmiah, melainkan sebuah 'target makro' yang membayangi kebijakan kita sebagai ancaman tersirat agar tetap patuh pada resep finansial global seperti IMF. Padahal ketika kiblat kebijakan ekonomi kita terlalu condong pada pakem finansial Barat, kita tanpa sadar dituntun untuk selalu merasa tidak berdaya tanpa restu mereka, contohnya penghapusan subsidi dan pemberlakuan mekanisme pasar bebas pada BBM.
Mengapa saya bisa se-tenang ini di saat orang lain meradang dan panik? Karena cerita ini tidak dimulai hari ini, dan saya tahu persis apa yang sedang kita pertaruhkan bersama.
Kembali ke sekitar tahun 2017 lalu. Saat itu saya baru saja lulus kuliah. Sebagai anak muda yang idealis, saya merasa jenuh melihat arah kebijakan negara yang seolah didikte bahwa Indonesia harus selalu menjadi pengikut kehendak asing. Saya tidak mau cuma diam dan mengeluh. Saya mencoba memasuki pintu berbagai partai politik, menyodorkan gagasan perubahan dari sudut pandang masyarakat umum. Namun, mayoritas parpol saat itu terasa sangat eksklusif, tertutup, dan tidak membuka ruang bagi suara non-kader. Sampai akhirnya, saya menemukan aplikasi Gerindra di Play Store, mendaftar, dan lewat sebuah jembatan kebetulan di media sosial, saya menitipkan beberapa gagasan agar bisa diteruskan ke Pak Prabowo.
Isinya adalah keluhan dan tantangan: agar Indonesia kembali ke visi besar dasar negara untuk menjadi bangsa yang sehat, cerdas, kuat, mandiri, dan digdaya—antara lain sinergi mandiri pangan, berdaulat energi, dan yang paling krusial: menolak didikte oleh skema utang luar negeri.
Tolong jangan salah paham. Saya menulis ini bukan karena egois, pamrih, atau ingin dikenal. Sama sekali bukan. Ini adalah tentang sebuah idealisme yang sebetulnya pernah kita semua impikan bersama.
Coba ingat-ingat lagi dan resapi sejarah beberapa tahun ke belakang. Bukankah kita semua bersorak bangga ketika Indonesia berhasil mengambil alih mayoritas saham Freeport? Bukankah kita mendukung penuh ketika aturan hilirisasi tambang ditegakkan? Kita bahkan pernah bertepuk tangan melihat laut kita berdaulat saat kapal-kapal maling ikan ditenggelamkan di era Ibu Susi Pudjiastuti.
Tapi mengapa sekarang, ketika konsekuensi dari keberanian itu datang dalam bentuk tekanan ekonomi, kita seolah lupa? Mengapa ada standar ganda di dalam pikiran kita? Kita ingin merdeka, tapi kita menangis, ingin menyerah, bahkan malah menghakimi dan berusaha menyingkirkan para pejuang yang berdiri di garda depan ketika gerombolan yang kita lawan mulai membalas memukul balik? Apakah kita ingin mengulang kisah Ibu Susi ke-2, 3, dan seterusnya?
Mari kita bongkar apa yang sebenarnya terjadi di balik panggung sandiwara ini. Ini bukan fenomena alamiah. Ini adalah hybrid warfare—perang terselubung untuk merontokkan kedaulatan kita.
Bayangkan Indonesia adalah sebuah lahan kebun dan kolam yang sangat luas, sangat subur, milik kita, para petani, nelayan, dan penambang nusantara. Di dalam tanahnya terkandung nikel, kelapa sawit, dan batu bara yang paling dicari di seluruh dunia. Dulu, tengkulak dan mafia asing bisa masuk ke kebun kita, mengambil materi mentah sesuka hati dengan harga receh. Begitu pemerintah mendirikan 'warung resmi' lewat BUMN dan membuat aturan tegas bahwa semua ekspor komoditas strategis wajib lewat satu pintu, ruang gerak para penjarah global langsung dikunci mati. Gak ada lagi main belakang.
Karena tidak bisa lagi memaksa membeli murah di kebun kita secara langsung, mereka memakai taktik licik di pasar keuangan. Bandar-bandar duit di luar negeri sengaja melakukan spekulasi agresif untuk meruntuhkan Rupiah kita. Tujuannya? Biar Rupiah kita hancur, sehingga hasil bumi dari kebun kita otomatis menjadi 'murah banget' bagi mereka yang memegang Dolar AS.
Serangan ini diperparah oleh jebakan batman dari investasi asing yang selama bertahun-tahun memanjakan kita dengan budaya "bakar uang" di dunia digital. Begitu ekosistem kita ketergantungan, para investor asing ini melakukan penarikan modal massal (capital flight) secara serentak. Likuiditas domestik kita dikuras habis, meninggalkan Rupiah dalam kondisi tertekan.
Ini adalah lagu lama sejak zaman VOC. Penjajah selalu memakai pola yang sama. Mereka tidak pernah maju sendirian; mereka selalu bekerja sama dengan kaki tangan lokal melalui taktik adu domba. Target mereka hari ini bukan cuma satu, melainkan skenario dua arah yang saling menguntungkan bagi kelompok mereka:
1. Bagi aktor lokal yang berkhianat: Mereka mengejar syahwat kekuasaan dan jabatan baru jika berhasil menggulingkan pemerintahan yang sah melalui jalur kekacauan.
2. Bagi aktor asing: Mereka mendapatkan kembali kendali ekonomi total atas lahan dan kekayaan alam kita yang sempat terkunci.
Jika masyarakat terpancing, kehilangan akal sehat, dan menciptakan instabilitas politik, para aktor global ini akan bersorak menang. Indonesia akan menghadapi nasib tragis seperti Venezuela, Kongo, dan Iran—negara-negara yang sejatinya kaya raya akan sumber daya, namun rakyatnya menderita karena dihancurkan dalam perang perebutan sumber daya, perang valas dan perpecahan politik yang diciptakan oleh pihak asing.
Kita sekarang sedang berada di persimpangan jalan sejarah yang paling menentukan. Rupiah yang melemah di angka Rp18.000,00 bukan tanda kita kalah, melainkan bukti bahwa perlawanan kita untuk menjadi bangsa mandiri sedang digoyang sekencang-kencangnya.
Ingat orang bijak berkata:
"Semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya."
Pertanyaannya:
"Apakah kita siap menjadi pohon tinggi berikut konsekuensi terpaan angin kencangnya?"
Sebagai orang biasa yang pernah ikut menitipkan benih visi ini bertahun-tahun lalu, saya sudah siap lahir batin menghadapi risiko ini dengan segala kemampuan dan resiliensi yang saya miliki. Saya pribadi tidak akan mundur selangkah pun dari mimpi kemandirian ini. Saya sangat berharap kita semua, masyarakat Indonesia seluruhnya juga tetap solid dan konsisten memegang teguh visi ini, maju tak gentar.
Lantas, bagaimana cara kita sebagai rakyat biasa untuk bisa bertahan, melawan balik, dan membangun benteng pertahanan total di tengah badai ekonomi ini agar kita tidak bernasib seperti negara korban perang valas lainnya? Saran dan solusi secara detail akan kita bahas khusus di artikel berikutnya.
Untuk saat ini, satu hal yang paling penting: buka mata, sadar, jaga akal sehat, rapatkan barisan, dan jangan pernah membiarkan diri terprovokasi oleh agenda asing yang ingin merampok kebun kita.